Showing posts with label Radar Banyuwangi. Show all posts
Showing posts with label Radar Banyuwangi. Show all posts

Tuesday, January 3, 2017

Di Temukan Selamat Setelah Tersesat Di Ijen Selama 30 Jam Dalam Keadaan Linglung, Katanya Sempat Di Kawal 3 Polisi Membawa Pedang.

 

LICIN – Para pendaki puncak Ijen tampaknya harus lebih hari-hati. Apalagi pendakian yang paling favorit selama ini dilakukan pada  malam hari. Seperti yang menimpa  Arif Prabowo, 18, warga Desa Randumerak, Kabupaten Probolinggo.
Pria yang berniat menghabiskan  malam tahun baru dengan mendaki  Kawah Ijen itu sempat hilang selama  lebih dari 30 jam sejak hari Minggu  (1/1) dini hari pukul 01,00. Setelah  sempat menghilang, Arif baru ditemukan pada hari Senin (2/1) pukul  06,00 kemarin.
Meski tidak terluka sedikitpun, saat ditemukan kondisi Arif sedikit linglung.  Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Posramil Licin, kronologi  peristiwa hilangnya pemuda itu  berawal dari 9 orang pemuda asal Probolinggo, yaitu Mafud, Sidik, Zainul,  Rizky, Ridwan, Dawi Maman, Munir  dan Arif sendiri yang tiba di Paltuding,  Ijen pada hari Sabtu (31/12) pukul 15.00 dengan tujuan ingin menghabiskan  malam tahun baru di puncak Ijen.
Usai menikmati kembang api  pergantian tahun baru, kesembilan pemuda itu berencana naik ke  kawah Ijen setelah gerbang pendakian dibuka. Sekitar pukul 01.00, rombongan memulai pendakiannya menuju kawah Ijen. Sialnya, baru 500 meter perjalanan, rombongan kehilangan salah satu anggotanya, yaitu Arief Prabowo.
Rekan-rekannya sempat mengira Arief hanya sedang buang air kecil. Mereka pun melanjutkan  perjalanan hingga sampai ke  puncak Ijen pada pukul 04.30.  Begitu tiba di puncak, kedelapan  pemuda itu masih belum  menemukan tanda-tanda Arief   yang menyusul di belakang mereka. Barulah setelah satu jam menanti, dan Arief tak kunjung tiba,  mereka kembali turun untuk  mencari Arif.
“Sebagian dari mereka mencari, tapi dua pemuda di antaranya, yaitu Mafud dan Ridwan, pergi ke Polsek Sempol, Bondowoso untuk melaporkan  kehilangan rekannya sekitar pukul 12.00 siang,” kata Komandan Posramil Licin, Pelda Ludiyanto.
Kedua rekan Arif yang melapor ke Polsek S mpol kemudian kembali dengan mengajak orang tua Arif. Mereka kemudian bersama-sama melakukan pencarian dengan dibantu para  penambang belerang yang berada tak jauh dari lokasi.
Setelah semalaman mencari  di sekitar lokasi awal hilang, akhirnya Arif ditemukan oleh ayah kandungnya dengan bantuan penambang belerang  sekitar pukul 06.00.   Arif ditemukan dalam kondisi sehat dan selamat, tanpa menggunakan pakaian (hanya menggunakan celana dalam). Kondisi  Arif juga sempat linglung saat  ditanyai petugas.
“Dari laporan  penambang, saat ditanya Arif  hanya menjawab sebelum hilang. Dirinya sempat dikawal tiga orang polisi yang datang menggunakan  pedang,” imbuh Ludiyanto.
Sementara itu, tak lama setelah  diinterogasi, Arif langsung dibawa  orang tuanya kembali ke Probolinggo. “Sekitar pukul 08.00 sudah dibawa pulang, kondisinya sehat hanya menderita luka ringan bekas sayatan duri saja,” pungkas pria asal Banyumas itu.
Sayangnya  saat Jawa Pos Radar Banyuwangi  mencoba menghubungi rekan- rekan korban dari nomor telepon yang ada di laporan polisi,  keduanya tidak menjawab panggilan. (radar)

Sumber : Koran Radar Banyuwangi
Continue Reading →

Monday, November 28, 2016

46 Rumah di Ketapang Terendam Banjir, Waspada Untuk Daerah Lain di Banyuwangi Yang Wilayahnya Sering Jadi Genangan Air Waktu Hujan

 

KALIPURO – Hujan lebat mengguyur wilayah Banyuwangi Sabtu malam hingga subuh kemarin (25/11). Akibat hujan deras ini, perkampungan RW10, Dusun Krajan, Desa Ketapang, Kalipuro kebanjiran. Ada 46 rumah yang terendam banjir dengan tinggi air mencapai lutut orang dewasa atau sekitar 50 cm.

Banjir yang terjadi di perkampungan utara Pelabuhan LCM Ketapang ini terjadi sejak pukul 22.00 dan baru surut pada pukul 04.00. Banjir baru surut setelah dilakukan penyedotan air ke laut oleh tim BPBD Banyuwangi. Diindikasi, banjir ini bukan hanya karena  hujan lebat yang terjadi, tetapi  lebih disebabkan adanya pembangunan pagar di timur perkampungan warga oleh pihak Pelabuhan Ketapang.

Supinah Abu Bakar, 67, salah  satu warga setempat mengatakan, pembangunan pagar dan dermaga baru itu membuat saluran drainase dari perkampungan menuju laut menjadi tidak lancar. Lebih tingginya saluran drainase di sekitar pagar pelabuhan dibandingkan dengan drainase di dalam kampung  membuat air selokan menjadi terhambat saat menuju laut.

”Baru kali ini kampung kita banjir, tepatnya setelah ada pembangunan pagar ini,” katanya. Saat banjir menggenangi, warga setempat tidak ada yang tidur. Warga pun bergotong-royong  menyelamatkan perabotan rumah  dan barang berharga lainnya agar tidak terkena air banjir.

Bahkan  warga pun sempat mengungsi di  musala dan posyandu yang ada di dalam perkampungan. Dua bangunan itu dipilih warga untuk mengungsi karena letaknya lebih tinggi. Beruntung, akibat banjir ini tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Musibah banjir ini hanya membuat sebagian perabotan rumah yang  tidak sempat diselamatkan warga  menjadi basah. ”Kasur, buku sekolah, kulkas, lemari, kursi basah semua. Sandal juga banyak yang hilang. Pukul 04.00 air baru surut setelah  disedot pakai mesin,” kata perempuan yang juga ketua PKK RW02, Dusun  Krajan, Ketapang ini.

Dia berharap pihak pelabuhan memikirkan warga yang tergenang  banjir. Warga menginginkan adanya  perbaikan saluran drainase yang ada di timur perkampungan warga ini. ”Jika pihak ASDP Ketapang tidak segera memperbaiki, kalau  hujan lebat datang kembali datang, kampung kami pasti terendam banjir lagi. Kami sekarang was-was  kalau hujan lebat,” keluhnya.

Camat Kalipuro, Anacleto da Silva yang datang ke lokasi bersama pihak Koramil, BPBD dan Polsek  KPT saat banjir terjadi mengatakan, total rumah yang terendam akibat banjir ini ada sekitar 46 rumah. Dia tidak menampik penyebab banjir ini karena tidak lancarnya saluran drainase di perkampungan  saat akan menuju laut.

”Drainase yang dibangun pihak pelabuhan sempit dan tidak jelas arah airnya kemana. Itu yang membuat air selokan warga tidak bisa lancar menuju laut sehingga terjadi banjir,” kata Leto panggilan akrabnya. Ke depan, pihaknya akan membicarakan hal ini dengan pihak ASDP  Ketapang.

Perbaikan saluran drainase menjadi harapan pihaknya agar segera dilakukan oleh pihak ASDP Ketapang. Selagi menunggu  perbaikan, diharapkan juga pihak ASDP Ketapang menyediakan  pompa air yang bisa digunakan warga untuk menyedot air jika banjir kembali melanda.

”Kalau tidak segera diperbaiki, pasti akan banjir lagi. Kita akan bicarakan ini dengan pihak ASDP Ketapang,”  jelasnya. (radar)
Continue Reading →

Friday, November 18, 2016

PENGUMUMAN INFO PEMADAMAN LISTRIK BANYUWANGI KOTA PADA HARI SABTU, TANGGAL 19 - NOPEMBER - 2016


INFO PEMADAMAN LISTRIK
Sehubungan adanya pekerjaan Rehab SUTM (P. Bulog), Pemasangan PCT (P. Mendut), Bongkar LBS KTL (P.Giri).
Akan dilaksanakan Pemadaman Listrik pada:
Sabtu, 19 November 2016
Jam 08.00 s/d 16.00 WIB
Untuk daerah yang padam:
- Lingkungan kamp. Ujung
- Lingkungan Tukangkayu
- Jln. Dr. Soetomo
- Jln. A. Yani
- Jln.Adi Sucipto
- Lingkungan Sobo
- Lingkungan Bengawan
- Lingkungan Welaran
- Jln. Jaksa Agung Suprapto
- Lingkungan Tamanbaru
- Jln. Agus Salim
- Sebagian Jln. Brawijaya
- Jln. S Parman
- Lingkungan Pakis
Apabila pekerjaan tersebut telah selesai sebelum jam 16.00 WIB maka aliran listrik akan dinormalkan lagi.
Jika jam 10.00 WIB listrik belum padam, maka Pemadaman Dibatalkan. (mh)
Continue Reading →

Wednesday, November 16, 2016

Lagi Lagi, Penemuan Jasad Perempuan Yang Mengapung di Kanal Kebondalem Bangorejo, Menghebohkan Warga Sekitar

 

Warga yang tinggal di sekitaran Kanal Kebondalem Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo dikejutkan dengan mayat wanita yang mengapung di sungai. Jasad perempuan nahas itu tersangkut di tumpukan sampah.

Setelah ditelusuri ternyata mayat wanita tersebut bernama Siti Hariyani (33), warga Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. Jenazah korban ditemukan sekitar pukul 06.45 WIB, Rabu (16/11/2016), dalam kondisi mengenakan pakaian kuning, bra warna ungu sama seperti ketika pamitan pada keluarganya sekitar pukul 19.00 WIB, Selasa (15/11/2016). Malam itu korban memang bilang hendak ke sungai untuk buang hajat.

Hasil keterangan yang didapat petugas, korban memang memiliki riwayat penyakit epilepsi. Atas alasan itu keluarga korban menolak permohonan otopsi yang diajukan aparat Polsek Bangorejo.
Usai pandatanganan penolakan otopsi, aparat menyerahkan jasad korban kepada pihak keluarga. Tujuannya agar korban segera dimakamkan di kampung halamannya yang berjarak sekitar 3 kilometer dari tempat kejadian perkara.

Kapolsek Bangorejo menambahkan, hasil visum petugas medis Puskesmas Bangorejo yang datang ke lokasi bersama aparat kepolisian menemukan sejumlah luka pada tubuh Siti Hariyani. Luka itu terlihat pada bagian dahi dan pelipis kanan.

Menurut tim medis luka itu terjadi akibat korban jatuh ke sungai dan membentur benda tumpul. Selain di dua area itu tidak ditemukan luka lain. (riz)
Continue Reading →

Tuesday, November 15, 2016

Cerita Kronologi Penemuan Mayat Di Sungai Yosowinangun (Selatan Koramil Jajag) Selasa Jam 3 Sore Tadi!


Terkait penemuan Sepeda motor, STNK dan SIM yang tercecer tanpa pemilik di di Yosowinangun tadi pagi yang sempat di informasikan oleh Kepala Dusun Jajag di Radio Bintang Tenggara. Ternyata ada hubungannya juga dengan penemuan mayat di sungai Yosowinangun, tepat di selatan Koramil Jajag, Gambiran.


Menurut pak Hartono, korban ditemukan di sungai tepat dibawah sepeda motornya, setelah sungai dikeringkan oleh warga.

Korban diperkirakan berusia belasan tahun, dan informasi sementara tinggal di Dusun Sambirejo, Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo.

Teman-teman Gatekeeper langsung menghubungi Kapolsek Gambiran. Namun beberapa kali nada sibuk. Setelah itu menghubungi Polsek Gambiran diterima IPTU Sugeng. Pihaknya membenarkan penemuan mayat itu, saat ini korban sudah ada di RSUD Genteng dan pihak keluarga juga sudah ada di Rumah Sakit.

Asal mulanya selepas Adzan Subuh Pak Sunaryo yang merupakan orang yang pertama kali menemukan, berjalan di tepian sungai, kemudian tanpa sengaja melihat sebuah sepeda motor tanpa pemilik, beserta SIM, STNK atas nama Joni Pranata, 24, yang kondisinya berceceran.

Selanjutnya Pak Naryo ini mengundang warga dan melaporkan penemuan ini kepada Ketua RT, Djuwito. Melihat ada yang janggal, kemudian warga melaporkan penemuan motor ini ke Polsek Gambiran, dan menyerahkan semua barang temuan tersebut ke Polisi.

Setelah itu Polisi melacak alamat yang tertera di SIM dan STNK yang ditemukan. Alamat sudah ditemukan adalah Dusun Sambirejo, RT 03 RW 03 Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo.

Kemudian selang beberapa jam, Kapolsek Gambiran AKP Ketut Redana bersama keluarga korban dan warga menyusutkan air dan menelusuri bantaran sungai Yosowinangun. Setelah dilakukan pencarian dan setelah air kering, baru sekitar jam 3 sore, ternyata ada sesosok mayat laki-laki yang terlihat di air sungai yang kecil tersebut.
Setelah itu warga langsung mengevakuasi korban dan langsung dilarikan ke RSUD Genteng untuk dilakukan autopsi.
Gate Keeper juga langsung menghubungi RSUD Genteng yang diterima Mbak Lia dan membenarkan, namun untuk penyebab kematian pihak rumah sakit belum bisa memberikan informasi, karena memang belum ada ijin dari keluarga dan Kapolsek. (dd)

Sumber : Radio Bintang Tenggara
Continue Reading →

Berikut Cerita Kronologi Hilangnya Rita Marta Yang Di Sampaikan Andri Selaku Kepala Tim Mahasiswa Uniba

 

SEMENTARA itu, di tengah proses evakuasi, Andri Saputra, 22, salah seorang mahasiswa yang dianggap sebagai kepala tim mahasiswa  Uniba dipanggil ke Polsek Licin untuk dimintai keterangan. Usai dimintai keterangan, mahasiswa dari Kalimantan Tengah itu mengungkapkan,  rencana kegiatan arung jeram itu murni pribadi. Bukan kegiatan Diklatsar Mapala seperti  yang dikatakan beberapa orang.

Andri  menceritakan, rencana itu bermula saat dirinya dan dua temannya, I Made Widya  dan Dwi Bagus, berencana bermain arung jeram di Dusun Srampon, Desa Segobang. Kemudian, Andri menawari tiga temannya, yaitu Umi Farida, Sulistyaningsih, dan Rita Marta, untuk ikut kegiatan tersebut. Mereka bertiga ternyata bersedia.

Akhirnya mereka pun berangkat menuju Desa Segobang pada Minggu (13/11) pukul 08.00. Andri yang memiliki kenalan warga Dusun Srampon, Desa Segobang, bernama Taufik, langsung mengajak rekan-rekannya  ke rumah kenalannya itu.

Tak lama kemudian mereka langsung menuju lokasi dengan membawa perahu karet yang belakangan  diketahui aset milik Desa Segobang. “Awalnya pada malam minggu saya tanya-tanya. Katanya peralatannya sudah lengkap dan lokasinya aman untuk arung jeram. Jadi saya tawari teman-teman  yang lain,” ujar Andri.

Rupanya perkiraan Andri meleset, perahu karet memang aman setelah berjalan. Namun, mendekati Kedung Lowo, kondisi berubah. Karena Andri dan rekan-rekannya ternyata tidak bisa menguasai perahu karetnya. Sekitar 20 meter sebelum air terjun, perahunya terbalik. Dia dan kelima temannya pun terseret arus dan  jatuh ke air terjun.

“Begitu jatuh saya langsung minggir dan meng-  hitung teman-teman saya. Ternyata   benar, ada satu yang tidak ada. Saya sempat mencari di sekitar air terjun,lalu ketemu kerudung dan tasnya,” ujar pria yang juga menjabat sebagai ketua BEM Uniba itu.

Begitu mengetahui satu rekannya tidak ada, Andri langsung pergi mencari sinyal selular dan  mencari bantuan, termasuk menghubungi Kodim 0825. Selanjutnya, orang-orang berdatangan  dan mencari korban hingga sekarang. Andri juga sempat menghubungi orang tua Rita yang  kemudian datang pada malam  harinya.

“Anaknya ini baik dan suka penasaran. Awalnya saya memang berniat hanya bertiga main arung jeram. Tapi ternyata ada tiga lagi yang ikut,” ujarnya. Kepala Desa Segobang, Syamsul Kholik, saat dikonfirmasi terkait keberadaan wisata arung jeram tanpa alat pengaman itu mengaku tidak tahu-menahu.

Yang dia   ketahui, wisata arung jeram berada  di sekitar daerah Kedawung Adventure. Itu pun dengan rute  yang tidak berbahaya dan dilengkapi pengaman lengkap, mulai helm, pelampung, dan dayung. Saat peristiwa berlangsung,  Kholik mengaku tak mendapat   laporan sama sekali dari pihak dusun maupun masyarakat.

“Kemungkinan ini bukan kegiatan  resmi, karena laporannya tidak ada. Saya juga heran kenapa mereka berani naik perahu karet,  padahal tidak ada pelindung  sama sekali,” ujarnya keheranan. Taufik, warga Dusun Srampon yang dipercaya meminjami perahu karet, saat dikonfirmasi terkesan kebingungan. Dia berusaha menghindar  dan mengatakan dirinya bukan guide dan hanya ikut main-main saja.

“Saya ikut main, bukan penunjuk jalan. Saya juga ikut mencari bantuan waktu perahunya tenggelam,” ujar Taufik saat ditemui di Polsek Licin. (radar)
Continue Reading →

Pencarian Rita Marta Ayu Yang Dilakukan oleh Polair, Tim SAR, BPBD, Posramil dan Relawan Nihil, Hanya Menemukan Kerudung Dan Tas Korban Saja

 

LICIN – Proses pencarian korban tenggelam di Sungai Kedung Lowo, Dusun  Ledok, Desa Jelun, Kecamatan Licin, belum membuahkan hasil. Rita Marta Ayu, 19, mahasiswi semester 1 Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas PGRRI Banyuwangi (Uniba), yang hilang  setelah perahu karet yang dia tumpangi terbalik hingga kemarin (14/11) belum  ditemukan.

Tim SAR sebatas menemukan kerudung dan tas milik korban. Puluhan orang dari Polair Banyuwangi, tim SAR, BPBD, Posramil Licin, dan relawan, termasuk warga sekitar, tak henti- hentinya melakukan penyisiran. Mereka berupaya menemukan  korban yang terakhir diketahui tercebur di bawah air terjun.

Tas dan kerudung milik Rita yang ditemukan tak jauh dari air terjun menjadi patokan tim evakuasi  untuk mencari di kedalaman air. “Kita masih coba sisir di sekitar air terjun. Beberapa anggota menggunakan perahu karet dan sebagian berpegangan pada tali,” ujar Kasatpolair Banyuwangi, AKP   Subandi, yang ikut ke lokasi.

Hingga tadi malam tim masih belum menemukan hasil sama sekali terkait keberadaan korban.  Dalamnya kubangan di bawah  air terjun mempersulit proses pencarian. Terkait kemungkinan korban hanyut, tim BPBD, SAR,  dan warga, mencoba menyisir sungai hingga sejauh 200 meter dari lokasi.

Setiap bagian sungai yang dalam diperiksa warga menggunakan galah. Pencarian terus berlangsung sampai air terjun Kedung Sigaran yang sedikit lebih besar daripada Kedung Lowo. Salah seorang warga yang tak sabar langsung masuk   ke dalam kubangan di bawah air terjun. Tetapi, dia tetap tak menemukan apa-apa.

“Kedung Sigaran ini dalamnya 10 meter. Kita sudah membawa galah tapi belum sampai ke dasar,’’ ujar  Sahrul, salah seorang relawan. Diberitakan sebelumnya, rombongan mahasiswa Uniba mengalami musibah saat melakukan wisata arung jeram (rafting) di  Sungai Sungai Kedung Lowo, Dusun Ledok, Desa Jelun, Kecamatan  Licin, Minggu siang kemarin  (13/11).

Satu mahasiswi dinyatakan hilang setelah perahu karet yang dia tumpangi terbalik di sungai yang kemiringannya cukup curam. Korban hilang bernama Rita Marta  Ayu, 18, warga Dusun Badolan,  Desa Bajul mati, Wongsorejo. Sementara itu, lima rekannya selamat dari maut.

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin, musibah bermula saat rombongan tersebut melakukan rafting di  sekitar Sungai Kedung Lowo.  Sekitar pukul 10.00 rombongan  melaksanakan kegiatan arung jeram di sungai tersebut menggunakan perahu karet.

Satu perahu diisi enam mahasiswa, termasuk korban yang hilang.  Di tengah perjalanan menyusuri  sungai, tepatnya pukul 13.00, tiba- tiba perahu karet yang ditumpangi enam mahasiswa yang dibantu seorang pemandu tersebut terbalik.

Seluruh penumpang tercebur ke sungai, termasuk Rita. Satu per satu mahasiswa berusaha  menyelamatkan diri agar bisa  keluar ke permukaan air. Nahas, satu penumpang perahu  karet, yakni Rita Marta Ayu, tidak  kunjung muncul ke permukaan.

Kuat dugaan, korban tenggelam dan terbawa arus sungai hingga akhirnya dinyatakan hilang.Mengetahui hal itu, teman-teman  korban dan pemandu rafting  berusaha mencari. Sayang, upaya pencarian belum membuahkan  hasil. Mereka akhirnya memutuskan melaporkan kejadian itu kepada petugas berwenang. (radar)
Continue Reading →

Makin Hits Jadi Tempat Foto!! Gak Usah Jauh-Jauh Kemalang Untuk Sekedar Foto Di Kampung Warna Warni, Banyuwangi Juga Punya!!

 

BANYUWANGI – Kawasan sepanjang Kalilo, Banyuwangi terlihat semakin menarik dengan cat warna-warni pada dinding plengsengan kalilo, dan bangunan yang berdekatan dengan plengsengan pun terlihat mencolok. Ya, saat ini kawasan sungai yang hampir terlihat kumuh itu berubah lebih berwarna.

Dengan warna-warna cerah dan mencolok. Cat warna-warni pada dinding plengsengan Kalilo ini adalah hasil kerja bareng antara Ikatan Alumni Teknik Lingkungan Institute Teknik 10 November Surabaya (IKA TL ITS) dengan Dinas Pengairan Banyuwangi.

Secara simbolis pengecatan dinding Kalilo ini dilakukan pada Sabtu (12/11) dengan dihadiri Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Kepala Dinas Pengairan Banyuwangi Dr Ir H Guntur Priambodo, Plt Kepala Badan Lingkungan Hidup Khusnul  Khotimah, Kepala Dinas Pendidikan Sulihtiyono, Kepala DKP Arief Setiawan, Ketua RT sepanjang bantaran kalilo, Ketua IKA TL ITS   Iwan Prasetyo serta 100 anggota IKA TL ITS dan masyarakat umum.

Mereka berada di Banyuwangi mulai tanggal 12-13 November 2016, serangkaian kegiatan family gathering dengan tema sambang dulur ini diisi  berbagai acara, seperti bakti sosial, malam keakraban, nonton bareng Banyuwangi Ethno Carnival, wisata ke kawah ijen, wisata   Desa Osing, dan berwisata di Pantai Solong.

Ketua IKA TL ITS Iwan Prasetyo mengatakan pihaknya memberikan apresiasi kepada Bupati Anas yang telah mampu membawa Banyuwangi lebih baik. Oleh sebab itu, IKA TL ITS yang tersebar di berbagai  daerah, termasuk di Banyuwangi, sudah seharusnya memberikan kontribusi sumbang pikir kepada daerah.

“Kami mengimbau agar semua IKA TL ITS di Banyuwangi agar  lebih maksimal dalam membangun daerahnya, gunakan ilmu selama menempuh pendidikan di Teknik Lingkungan untuk membangun daerah,” kata Iwan kemarin.

Bupati Anas memberikan apresiasi terhadap IKA TL ITS. Menurut Anas, saat ini Banyuwangi sedang mengampanyekan  kali bersih melalui festival.  Tujuannya adalah untuk mengajak masyarakat menjaga kebersihan sungai di Banyuwangi.  Program ini terus digeber tiap tahun karena  menyangkut gerakan hidup bersih.

“Harapan kami dengan festival akan tumbuh semangat bagi rakyat untuk terus menjaga dan melestarikan kebersihan sungai. Sungai pun bisa berfungsi kembali sebagai sumber  mata air,” kata Bupati Anas.  Selain itu, imbuh Anas, kebersihan sungai ini sebagai upaya melengkapi amenitas sektor pariwisata di kabupaten yang bertajuk the sunrise of java  ini.

“Dengan membersihkan sungai berarti ikut berkontribusi  membangun Banyuwangi. Kebersihan sungai juga ikut menentukan daya saing wisata  karena wisatawan sangat menikmati daerah  yang lingkungannya bersih. Apalagi di Pelabuhan Boom akan dijadikan kawasan marina. Sungai-sungai yang bermuara di  Pantai Boom harus dijaga benar kebersihannya.

“Sebagaimana diketahui bersama, membuang sampah di sungai masih banyak ditemui. Oleh karena itu perlu kampanye  yang masif untuk menghilangkan kebiasaan   itu,” kata mantan anggota DPR RI ini. Banyuwangi punya 116 sungai dengan  kualitas air beragam.

Selama kampanye kali bersih itu, kata Guntur, pemerintah  daerah membuat lomba sungai bersih dengan beberapa kategori, termasuk tingkat kebersihan sungai dari limbah domestik  dan industri serta pemanfaatan sempadan sungai untuk penanaman pohon.

“Salah satu agar sungai tampak indah ini adalah pengecatan dinding Kalilo dengan warna  warni yang mencolok, dan kami mengu- capkan terima kasih atas sumbangsih IKA  TL ITS dalam memikirkan kali bersih di  Banyuwangi ini,” kata Ketua ISSI Jatim ini. (radar)
Continue Reading →

Supriyono Ditetapkan Sebagai Tersangka Pembunuhan Tutik Oleh Polsek Pesanggaran



GENTENG – Penyidik Polsek Pesanggaran yang menangani dugaan pembunuhan dengan korban Tutik, 50, asal Dusun Garit, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, telah memeriksa Supriyono, pacar korban. Dalam pemeriksaan itu, penyidik menduga kuat Supriyono yang kini  menjalani perawatan di RSUD Genteng karena mengalami luka  tusukan di perutnya itu sebagai  pelaku pembunuhan dan menetapkan sebagai tersangka.

“Hari ini (kemarin), (Supriyono) kita tetapkan sebagai tersangka,” cetus Kapolsek Pesanggaran, AKP Sudarsono. Dalam pemeriksaan hingga ditetapkan sebagai tersangka itu, terang kapolsek, Supriyono yang merupakan warga Dusun Ringinmulyo itu juga didampingi pengacara.

“Kita memeriksa tersangka dengan didampingi pengacara,” ungkapnya.Untuk melengkapi hasil pemeriksaan, polisi akan melakukan reka ulang. Hanya, lokasi rekontruksi masih belum diputuskan. “Kita akan reka ulang di lokasi kejadian atau tempat lain, masih menunggu perkembangan,” ujar kapolsek.

Dari laporan yang diterima, jelas kapolsek, rumah orang tua Supriyono yang juga lokasi kejadian, kemarin (14/11) dipenuhi warga.  Mereka beranggapan akan dilakukan reka ulang di lokasi itu. “Saya tidak tahu, warga itu  dapat kabar dari mana,” sebutnya.

Meski sudah bestatus sebagai tersangka,  kapolsek mengaku masih belum melakukan penahanan. Sebab, tersangka itu juga masih menjalani perawatan di rumah sakit. “Rencananya besuk (hari ini), tersangka sudah bisa pulang dari rumah sakit,” terangnya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Genteng di  RSUD Genteng sore kemarin, Supriyono terlihat sudah bugar. Dia sendiri juga mengerti jika pemulangannya sudah semakin dekat. “Besok pulang ke mana,” kata Supriyono pada keluarganya.

Beberapa perlengkapan medis, juga sudah  dilepas, seperti selang saluran kencing. Supriyono  sendiri juga mengaku sudah mulai bisa menelan makanan, seperti roti dan bubur. (radar)
Continue Reading →

Sunday, November 13, 2016

Talut Longsor, Grumbul Karangkuning, Desa Windujaya, kecamatan Kedungbanteng Jalan Desa Tertutup Sementara

BANYUMAS, suaramerdeka.com – Hujan lebat yang terjadi sejak Sabtu (12/11) malam menyebabkan talut di Grumbul Karangkuning, Desa Windujaya, kecamatan Kedungbanteng, longsor. Talut dengan ketinggian empat meter tersebut robek sepanjang tujuh meter.
Akibat peristiwa itu, akses jalan penghubung desa tersebut tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Minggu (13/11), warga bersama anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Banyumas melakukan kerja bakti membersihkan material longsor yang menutup badan jalan.
“Tidak ada korban jiwa pada persitiwa tersbeut, tapi kerugian diperkirakan mencapi Rp 20 juta. kami bersama warga berupaya membersihkan material longsor agar jalan tersebut dapat dilalui kendaraan roda empat,” kata Komandan Tagana, Adi Chandra.
Dia mengimbau warga di sekitar lokasi rawan bencana tanah longsor waspada. Pasalnya intensitas hujan yang tinggi akhir-akhir ini berpotensi menyebabkan pergeseran tanah. Apabila intensitas hujan berlangsung lama, warga diimbau mencari tempat yang lebih aman.
Continue Reading →

Kejar Kucing, Balita Jatuh dari Lantai Dua Pasar Genteng Banyuwangi. Teguran Keras Untuk Orang Tua!!

BANYUWANGI – Ini peringatan bagi para orang tua, agar mereka lebih jeli mengawasi buah hatinya yang sedang bermain agar tidak celaka. Seperti yang dialami Andra Tristan, balita yang jatuh dari lantai dua Pasar Genteng gara-gara  mengejar kucing.
Akibatnya jatuh dari lantai dua  pasar itu, bocah berumur 2,5 tahun itu menderita luka parah di dahi. Ibu Andra, Yanti, 42, menceritakan, kejadian itu bermula saat dirinya menggantikan tugas kakak kandungnya, Siti Masitah untuk berjualan  kecambah di Pasar Genteng.
Seperti biasa, Yanti selalu membawa putra bungsunya kemana pun, termasuk ketika berjualan di Pasar Genteng. Sekitar pukul 05.00, Yanti yang berjualan kecambah di lantai dua pasar hendak mengantarkan  pesanan pembeli di lantai satu.
Saat itu, Yanti sejenak meninggalkan Andra. Baru beberapa menit ditinggal, Yanti mendengar kerumunan orang berteriak. Setelah dilihat, ternyata putranya dua sudah digotong oleh beberapa orang. Dengan kondisi nyaris seluruh wajah tertutup darah.
enurut beberapa orang yang  menggendong Andra, balita itu  berlari mengejar seekor kucing. Tanpa sengaja, Andra kemudian menginjak bagian lantai dua gedung  yang terbuat dari asbes. Seketika  itu, asbes jebol dan balita laki-laki itu jatuh ke lantai satu.
“Padahal saya tinggal hanya sebentar. Tiba- tiba sudah dibawa orang. Katanya mengejar kucing,” jelas Yanti. Saat itu juga, Yanti membawa anaknya ke RSUD Genteng. Karena belum ada peralatan CT Scan di RSUD Genteng, akhirnya Andra dirujuk ke RSUD Blambangan untuk memperoleh penanganan lanjutan.
“Di bagian kepala ini tadi sudah dijahit dulu waktu di RSUD Genteng. Tapi  saya disuruh membawa ke sini  (RSUD Blambangan). Katanya takut ada apa-apa di kepalanya,” terang Yanti saat ditemui di UGD  RSUD Blambangan siang kemarin.
Sementara itu, dr Agung Diah yang menangani Andra mengatakan,  tidak ada luka yang terlalu serius  di tubuh Andra. Hanya sebuah garis luka di tulang tengkorak karena terjatuh. “Ada fraktur linier di tulang tengkoraknya. Tapi ini masih dibilang  wajar, mengingat posisi jatuhnya tengkurap. Mungkin perlu dirawat satu sampai dua hari. Karena tadi  katanya sempat muntah-muntah,” ujar dokter Agung Diah.(radar)
Continue Reading →

BEC Jadi Konsumsi Dunia, Turis Rusia, Belarusia, Amerika Serikat, Prancis, dan Italia Ikut Ramaikan BEC


BANYUWANGI – Gawe akbar Banyuwangi  Ethno Carnival (BEC) edisi VI berlangsung meriah di Jalan Veteran sisi utara Taman  Blambangan kemarin (13/11). Meski urung  dihadiri Menteri Pariwisata Arief Yahya, parade kostum bertema The Legend of  Sritanjung Sidopekso ini, mampu membuat  ribuan mata penonton terpuaskan.
Sebelum acara dimulai, penonton terlebih dahulu dihibur tari pembuka yaitu deretan gandrung yang membawa kipas berwarna putih. Tak cukup sampai di situ, para penari  gandrung ini ikut menjadi bagian dari fragmen kisah legenda asal muasal nama  Banyuwangi.
Ketika muncul adegan Sritanjung dan  Sidopekso berdialog, para penari mengerumuni kedua tokoh. Mereka seolah ikut merefleksikan emosi dari keduanya.  Bahkan sampai akhirnya Sritanjung memilih  untuk menceburkan diri ke dalam sungai,  para penari gandrung membuat semacam defile dari kipas-kipas membentuk sungai  dan gerakan untuk mengerumuni Putri  Sritanjung.
“Isun getun Sritanjung, Banyune Wangai,” begitulah kira-kira dialog dari patih Sidopekso sebelum menutup fragmen cerita opening. Selanjutnya giliran Putri Pariwisata 2015, Dinka Faradiba tampil sebagai pembuka. Usai opening defile, para talent BEC yang  menampilkan keunikan legenda Sritanjung  Sidopekso dalam bentuk kostum.
Para talent yang membawakan talent Sidopekso berusaha menampilkan kesan gagah Patih Sindurejo itu. Kemudian, para pembawa tema Sritanjung juga melakukan hal yang sama. Mereka berusaha menampilkan gesture tokoh keturunan bidadari itu dengan  kostum yang didominasi warna  hijau.
Dan terakhir sebelum closing, giliran para penari Sulaha dikromo yang menampilkan kepongahan raja yang telah memfitnah Sritanjung. Usai kegiatan, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas  menyebut, jika BEC mempunyai tiga tujuan. Pertama adalah upaya mengenalkan budaya lokal ke publik global.
Hal ini dianggap sedikit berbeda dengan konsep  karnaval di lokasi lain yang lebih memilih membawa budaya luar ke daerah. Kedua, event pariwisata  ini adalah ruang untuk mengapresiasi anak-anak Banyuwangi   yang bergiat di bidang senibudaya. Ketiga, menggerakkan ekonomi masyarakat yang terpacu  karena adanya perputaran wisatawan yang luar bisa.
“Hotel penuh, kuliner laris, oleh-oleh ludes, jasa-jasa penunjang  bergerak seperti jasa transportasi,  pemandu wisata dan lain-lain.  Selain itu salah satu problem  pengembangan seni-budaya kita  selama ini adalah minim apresiasi. Latihan terus tapi tidak ditonton  ribuan orang. Dengan event ini,  apresiasi dilakukan sekaligus bagian dari regenerasi pencinta seni-budaya,” ujar Anas.
Sementara itu, Karnaval yang mengisahkan asal mula berdirinya Banyuwangi ini juga diikuti oleh 40 wisatawan mancanegara yang  ikut berparade. Di antaranya  berasal dari Rusia, Belarusia, Amerika Serikat, Prancis, dan  Italia. Mereka berpakaian layaknya penari Gandrung dan  ikut  berjalan menyapa masyarakat Banyuwangi.
Para wisatawan itu kebetulan sedang berlibur di Banyuwangi lalu ditawari untuk ikut tampil dan mereka menyambut antusias.”Ini pertama kalinya saya berlibur di Banyuwangi dan langsung terlibat di acara yang   unik ini, sangat menyenangkan sekali,” kata Dzmitry Magvay Nedashkouskiy, wisatawan asal Republik Belarusia.
BEC ini dihadiri sejumlah tokoh penting. Antara lain Bupati Raja Ampat Papua, Bupati Bandung Barat, Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Wati Murani dan Konsulat Jenderal Jepang Yoshiharu Kato. Bahkan Konjen Jepang mengatakan sangat terkesan dengan parade kostum etnik kontemporer  ini.
“Kostumnya bagus. Saya benar-benar kagum,” kata dia. Asisten Deputi Kemenpar, Wati  Murani juga menambahkan jika  konsistensi Banyuwangi meneruskan BEC hingga seri ke enam menunjukkan kreativitas dan inovasi yang sangat baik dari  Banyuwangi sendiri.
“Saya apresiasi visi dan misi Bupati Banyuwangi. Dengan wujud budaya Banyuwangi  yang ada dalam pergelaran ini akan menjadi evaluasi dan laporan  kami pada menteri,” kata Wati Murani. Sayangnya penanganan terkait penataan penonton sepertinya masih menjadi pekerjaan rumah  bagi penyelenggaraan BEC kali  ini.
Karena kurang ketatnya pengamanan pagar, para penonton masuk ke jalan hingga membuat para penari BEC tak bisa  bergoyang bebas. Tak hanya itu,  posisi penonton yang masuk sembarangan ke jalur penari membuat  para fotografer dan awak media kesulitan mengambil gambar.
Sementara itu sekitar pukul  16.00 sore kemarin, kemacetan tidak bisa dihindari di beberapa  titik kota. Sebab, puluhan ribu  penonton bubar menonton  parade BEC secara hampir bersamaan. Titik macet terpantau  tidak hanya di lintas timur kota.
Sisi lingkar barat kota yang biasa  jarang dilanda kemacetan, justru  terjadi penumpukan kendaraan.  Selain ada proyek aspal di sisi  timur doubleway jalan Hayam  Wuruk, macet parah juga terjadi sepanjang Jalan MH Thamrin. Kondisi semakin memburuk  ketika persis di pertigaan Hotel Giri Indah terdapat sebuah sedan  yang mogok. Namun sekitar pukul 17.30, kemacetan berangsur terurai. (radar)
Continue Reading →

Friday, November 11, 2016

Mahasiswa Asal Bali Yang Melakukan Pendakian ke Ijen, Ditemukan Meninggal di Puncak Gunung Ijen.

 

LICIN – Tempat wisata Gunung Ijen kembali makan korban. Kali ini petaka menimpa mahasiswa Universitas Pendidikan (Undiknas) Bali. I Putu Deni Krosiawan, 20, meregang nyawa karena kehabisan napas saat berada berada di ketinggian puncak Ijen.

Dengan  meninggalnya Putu Deni, tercatat sudah empat wisatawan yang meregang nyawa dalam setahun ini. Putu mendaki bersama tiga rekannya dari Undiknas. Mereka terpaksa harus pulang lebih awal sambil membawa  jenazah Putu ke Bali.

Artha Dharmawan, 20, salah seorang mahasiswa yang menjadi saksi mata kejadian ini menuturkan, rombongan naik Ijen pada Kamis dini hari (10/11) pukul 03.00. Pendakian yang bertepatan dengan hari pahlawan itu direncanakan  dengan pengambilan foto di beberapa spot yang menarik.

Para pendaki tersebut adalah Made Dwi Radtya, asal Sumerta Kauh, Denpasar; Ogiyante Suwendra asal Klungkung; Arta Darmawan asal Jimbaran, dan Putu Deni Krosiawan asal Banjar Sangkar Agung, Negara, Jembrana. Ketika sampai di tengah pendakian, I Putu Deni Krosiawan, mengajak Artha dan temannya untuk berfoto di salah satu spot yang dilihatnya cukup bagus.

Setelah puas berfoto, Putu kembali mengajak untuk berfoto di spot yang lebih tinggi lagi. Karena Putu sudah tujuh kali  mendaki Kawah Ijen, Artha dan  rekannya pun membiarkan Putu  memilih lokasi. Begitu sampai di salah satu spot yang berjarak  11 meter dari titik mereka berfoto sebelumnya, Putu tiba-tiba mengeluh jika sudah tidak kuat lagi. Tak lama, Artha melihat rekannya itu sudah terkapar.

“Terakhir yang saya dengar itu,  dia bilang sudah ngos-ngosan.  Terus waktu saya hampiri, jarak  sekitar enam meter dia sudah tergeletak. Saya kira kesurupan,” ujar Artha. Dia pun sempat meminta bantuan kepada empat orang penambang belerang. Mereka kemudian  menyarankan agar Artha meminta  bantuan ke pos bawah.

Tanpa pikir panjang, Artha langsung menuju ke bawah. Di tengah  jalan, dia sempat bertemu dengan  dua orang wisatawan asing. Sambil menanyakan sinyal ponsel, Artha menceritakan kepada dua orang Wisman itu jika temannya sedang pingsan.

Salah seorang Wisman itu pun sempat memeriksa kondisi Putu  yang masih terkapar. Wisman itu bahkan sempat memberikan  bantuan napas buatan kepada  Putu yang sudah mulai pucat. “Saya lihat salah seorang bapak bule yang memeriksa Putu itu mencoba menolong dan membuka mulutnya, tapi bapak  bule itu langsung geleng-geleng.

Karena saya belum percaya,  saya kembali ke rencana awal, saya turun ke bawah. Saya tanya tiap orang apakah ada sinyal,  tapi tidak ada,” jelas Artha. Begitu sampai di bawah, Artha  sempat meminta bantuan kepada salah seorang petugas. Karena tidak ada kendaraan, petugas tersebut mengatakan, lebih baik membawa rekannya turun dulu sebelum diberi bantuan medis.

Mahasiswa Fakultas Hukum itu pun kembali naik untuk membawa temannya. Tapi di tengah   jalan dirinya melihat jika Putu  sudah dibawa penambang dengan menggunakan troli sambil ditutup  kain putih. Karena heran, dia sempat menanyakan kenapa tubuh temannya itu ditutup kain.

Artha mengatakan jika dirinya yakin kalau  tubuh temannya itu masih hangat. Begitu tiba di bawah, Artha  kembali harus berlari kesana-kemari untuk mencari bantuan.  Dia mengaku sempat diarahkan  oleh petugas untuk meminta bantuan medis. Tapi ruangan yang ditunjukkan oleh petugas itu malah terkunci rapat.

Artha pun sempat kebingungan karena tampaknya tidak ada petugas yang bisa benar-benar memberikan bantuan. Sampai  akhirnya ada sebuah mobil  ambulans yang kebetulan melintas di jalan depan Paltuding.   Setelah dikejar, akhirnya ambulans itu mau berhenti. Artha kemudian meminta agar temannya bisa diangkut.

“Waktu di atas tidak ada yang bisa membantu.  Saya tanya tim medis dimana  setelah diarahkan ternyata memang tidak ada. Saya sempat  kesal karena beberapa orang  mengerumuni teman saya dan mengambil-ambil foto. Saya sempat melarang mereka,  takutnya di-share yang tidak-tidak,” terang Artha.

Setelah diangkut ambulans, Artha sempat meminta kepada sopir untuk membawa temannya ke Puskesmas terdekat. Tetapi setelah diperiksa oleh petugas yang ada di ambulans, ternyata tubuh Putu sudah dingin dan dinyatakan meninggal.

”Yang saya sesalkan, kenapa tempat seramai itu tidak ada fasilitas kesehatannya,” sesal mahasiswa semester V tersebut. Kapolsek Licin, AKP Jupriyadi menambahkan jika dari laporan  yang diberikan BKSDA, menunjukkan jika Putu sudah meninggal pada pukul 08.30. Karena sudah  meninggal, korban pun langsung  dibawa ke RSUD Blambangan,  sedangkan teman-temannya  diinterogasi oleh petugas untuk  meminta keterangan lebih lanjut.

“Kita perkirakan korban meninggal karena kehabisan napas. Mungkin karena terlalu bersemangat, dia tidak memperkirakan tenaganya sampai kehabisan  napas, kita juga masih menunggu  hasil otopsi,’’ ujar Jupri. Kapolsek menambahkan, selama ini sudah dipasang beberapa  banner imbauan dan peringatan bagi para pendaki.

Dia berharap  ke depan pihak pengelola Kawah Ijen bisa menyediakan layanan  untuk pertolongan kepada pendaki. “Sehingga tidak terjadi lagi kasus seperti yang dialami  mahasiswa Universitas Pendidikan Nasional tersebut,’’ tandas  Jupriyadi.

Informasi yang diperoleh koran ini, peristiwa meninggalnya para pengunjung ini setidaknya menjadi pembelajaran bagi pengelola  Ijen. Sudah saatnya, di kawasan Paltuding disediakan pos kesehatan yang didukung dengan tenaga medis. Yang terpenting lagi, keberadaan kereta gantung  dianggap mendesak. Sebab, dengan kehadiran sky train tersebut pengunjung tidak harus berjalan kaki yang menguras tenaga. (radar)
Continue Reading →

Lagi Lagi, Kecelakaan Mobil Avanza Seruduk Supra 125 di Glenmore, 1 Pasang Suami Istri Meninggal di Tempat

 

GLENMORE – Kecelakaan maut merenggut korban jiwa kembali terjadi. Kali ini, kecelakaan yang menyebabkan dua warga tewas di lokasi kejadian terjadi di jalur Waringin, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore kemarin pagi (10/11).

Korban yang meninggal dengan luka cukup parah di bagian kepala itu pasangan suami istri (pasutri), Mohammad Hasim, 53, dan Misnati, 60, asal RT 4, RW 1, Dusun Wadung Kamidin, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore. Kecelakaan maut itu terjadi sekitar pukul 08.40.

Awalnya, mobil Toyota Avanza dengan nomor polisi P 639 VR yang disopiri Hariyanto, 42, warga Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari melaju dari arah barat. “Mobil  itu kecepatan agak tinggi,” cetus Kanitlantas Polsek Kalibaru, Ipda Uuk Supriatna.Setiba di lokasi kejadian, tiba-tiba mobil Avanza oleng ke kiri dan menabrak motor Honda  Supra 125 dengan nomor polisi P 2125 ZN yang dinaiki pasutri Hasim dan Misnati. “Motor yang dinaiki pasutri berada di depan mobil Avanza,” terangnya.

Usai menabrak pengendara  motor itu, terang dia, mobil Avanza yang mengangkut tujuh penumpang itu terus meluncur  dan akhirnya menabrak warung es degan yang ada di pinggir jalan. Mobil itu baru terhenti  setelah menabrak pohon mahoni.

“Mobilnya nyasak,” ungkapnya. Akibat diseruduk mobil Avanza, pasutri yang naik motor Hasim dan Misnati terseret oleh mobil dan meninggal di lokasi kejadian  dengan luka cukup parah di bagian kepala dan lengan. Sedang pemilik warung, Saudah, 23, asal Dusun Krajan, Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore mengalami  luka di bagian wajah karena tertimpa bangunan warungnya.

Sopir mobil Toyota Avanza, Hariyanto selamat berikut dengan tujuh orang penumpangnya. Para korban meninggal dan selamat,oleh polisi dan warga langsung ditolong dengan dibawa RS Bhakti  Husada, Krikilan, Glenmore. Ada dugaan, sopir Avanza ngantuk saat mengendarai mobil.

“Untuk sopir Avanza selamat dan kita bawa ke Polsek Glenmore,” katanya. Sopir mobil Toyota Avanza, Hariyanto, terlihat shock berat  saat berada di polsek. Dia mengaku baru dari Bandara Juanda, Surabaya, untuk menjemput kerabat yang pulang dari   Taiwan.

Sopir itu mengaku berangkat dari Surabaya sekitar pukul 22.00.  Selama perjalanan itu, terang  dia, dua kali istirahat, yakni di  Probolinggo dan di Jember. Saat kejadian, mobil seperti tidak bisa dikendalikan. Dia mengaku tidak sadar saat menabrak pengendara motor di depannya.

“Saya itu nggak tahu, kata orang ban saya meletus, tahu-tahu ada orang  di depan mobil,” cetusnya. Kanitlaka Polres Banyuwangi,  Ipda Budi Hermawan, saat tiba  di lokasi kejadian mengatakan melihat kondisi TKP dan keterangan dari para saksi, kecelakan  itu mengarah pada kelalaian  pengemudi mobil.

“Kalau melihat lokasinya, sepertinya ini murni  kelalaian,” jelasnya. Di lokasi itu, terang dia, meski jalurnya lurus memang cukup rawan. Terbukti, di jalur tersebut sudah dipasang papan peringatan agar pengendara berhati-hati. “Jalur ini memang rawan, itu papannya harus  diperjelas,” ucapnya. (radar)
Continue Reading →

Monday, November 7, 2016

Tegaldlimo! Daihatsu Seruduk Sepedah Motor, Tiang Listri dan Pohon, Koraban 1 Meninggal dan 1 Kritis Dengan Luka Parah

 

TEGALDLIMO-Kecelakaan hingga menyebabkan satu korban tewas, dan satu korban  lainnya mengalami luka berat, terjadi di jalan raya Dusun Sumberluhur, Desa/Kecamatan Tegaldlimo, Sabtu sore (5/11). Korban yang bernasib naas itu adalah Sunari, 50, warga Dusun Krajan, RT 4, RW 9, Desa  Kedungringin, Kecamatan Muncar.

Sedang korban yang luka dan masih menjalani perawatan di Klinik Mitra Keluarga, Tegaldlimo adalah Nuraini, 41, tetangga Sunari. Kecelakaan yang merenggut satu nyawa itu, terjadi sekitar pukul 17.30. Itu bermula saat Sunari dan Nuraini yang mengendarai motor Yamaha Vega dengan nomor polisi P 2437  VG melaju dari arah barat.

Dari arah timur, meluncur mobil pikap Daihatsu Grand Max dengan nomor polisi P 8085 VI yang disopiri Sucipto, 35, asal Dusun Sumberjoyo, RT 2, RW 3, Desa Kumendung, Kecamatan Muncar. Setiba di lokasi kejadian, pengendara motor dan sopir mobil diduga berebut jalan baik. Sebab, jalan raya di lokasi itu bergelombang dan rusak. Tapi sial, kedua kendaraan itu bertemu di tengah  jalan dan tabrakan tidak bisa dihindari lagi.

“Tabrakan di tengah jalan raya,” terang Kanitlantas Polsek Muncar, Ipda Joko Budi Utomo. Dalam tabrakan itu, Sunari dan motornya terseret oleh mobil pikap hingga berjarak sekitar 18 meter. Mobil pikap itu baru berhenti setelah menabrak tiang lampu dan pohon  yang berada di tepi jalan raya.

“Korban Sunari bersama motornya berada di bawah mobil pikap dengan luka parah dan meninggal di lokasi kejadian, sedang temannya terpental ke sungai dan selamat,” ungkapnya. Menurut kanitlantas, Sunari yang meninggal itu karena mengalami luka  patah tulang kaki kanan dan gagar otak berat.

Sedang Nuraini mengalami luka lecet di beberapa bagian tubuhnya. Oleh warga dan polisi, kedua korban itu dilarikan ke Klinik Mitra Keluarga di  Desa/Kecamatan Tegaldlimo. “Untuk sementara mobil pikap dan motor kita amankan di Polsek Tegaldlimo,” katanya.

Kecelakaan yang terjadi di jalan raya Dusun Sumberluhur, Desa Tegaldlimo, dan tidak jauh dari Kantor Desa/Kecamatan Tegaldlimo, itu diduga karena  kontur jalan yang rusak dan bergelombang. “Kami minta warga untuk selalu waspada dan berhati-hati dan melintas  di sekitar lokasi kejadian, karena jalan  banyak yang rusak dan bergelombang,”  cetus Ipda Joko Budi Utomo.(radar)
Continue Reading →

Miris!!! Pria Asal Dusun Cemtuk, Kec. Cluring, Banyuwangi ini Tega Perkosa Anak Tirinya Yang Masih SMP Hingga Hamil 4 Bulan


CLURING – Kelakuan Slamet  Risbowo ini benar-benar kebangeten. Pria berumur 50 tahun asal Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring, itu diduga telah memperkosa anak tirinya berinisial ID, 13. Akibat perbuatan asusila sang  ayah tiri, pelajar salah satu SMP di wilayah Cluring itu, kini  hamil empat  bulan.

Karena perbuatannya itu, Slamet untuk sementara diamankan di Mapolsek Cluring. Terbongkarnya perbuatan asusila yang dilakukan ayah tiri itu, bermula saat ibu kandung korban merasa curiga dengan pertumbuhan putrinya yang dilihat perutnya membesar.

Karena curiga, ibu  korban memeriksakan anaknya ke bidan di daerah Cluring. ID yang semula tidak mau berterus terang, akhirnya tidak bisa berkutik setelah mengetahui hasil pemeriksaan bidan. Perut pelajar SMP yang terlihat membesar itu positif hamil  empat bulan.

“Korban akhirnya mengaku telah hamil,” kata Kapolsek Cluring, Iptu Bejo Madrias melalui Kanit Reskrim, Ipda Hariyanto. Mendengar pengakuan putrinya,  ibu kandung kandung ID marah  besar dan mendesak anaknya untuk  segera menyebut orang yang telah menghamilinya.

“Korban mengaku kalau yang menghamili ayah tirinya,” ungkapnya. Dari pengakuan korban dan hasil pemeriksaan bidan, ibu kandung korban tidak terima dan langsung melaporkan ke polsek. Dari laporan itu, polisi langsung meringkus  Slamet Risbowo di rumahnya.

“Pelaku kita tangkap di rumahnya,” terangnya. Dari keterangan tersangka, perbuatan layaknya suami istri itu dilakukan pada Rabu (6/7) sekitar  pukul 10.00. Ketika itu, sang istri yang juga ibu kandung korban  berinisial MW sedang pergi ke rumah  orang tuanya untuk mengantar makanan.

“Saat itu korban berdua sama pelaku,” katanya.  Entah setan mana yang masuk ke pikiran pria hingga anak tirinya berbadan dua. Yang jelas, pada pukul  10.00, Slamet memaksa korban  masuk ke kamar. Selain itu, juga membujuk dengan memberi uang  Rp 50 ribu. Di kamar itulah, tersangka  melancarkan niat jahatnya dengan melucuti pakaian korban lalu  menidurinya.

“Tersangka mengakui telah menindih dan melakukan persetubuhan hanya satu kali,” jelas Ipda Hariyanto.  Selain mengamankan tersangka,  untuk memproses hokum tersangka,  polisi telah mengamankan barang  bukti (BB), di antaranya pakaian korban, pakaian tersangka, dan sprei.

Selain itu juga hasil pemeriksaan RSUD Genteng.  Akibat perbuatannya itu, tersangka oleh penyidik polsek dijerat dengan  pasal 76 D junto pasal 81 ayat 1 dan  ayat 2, UU RI nomor 35 tahun 2014  tentang perubahan atas UU RI nomor  23 tahun 2002 tentang Perlindungan  Anak (PA) dengan ancaman  hukuman minimal tiga tahun penjara, dan maksimal 15 tahun penjara. (radar)
Continue Reading →

Sunday, November 6, 2016

Kasihan MitroTIPI !!, Sehabis Mobil Satelit Siarannya DI Usir, Giliran Reporter Yang Melepas Atribut Saat Tugas Kareta Takut Di Usir Juga!! Lihat Fotonya

Berikut adalah foto foto ketakutan media MitroTIPI saat Menyiarkan demo akbar yang di gelar di jakarta kemaren, Awal masalah terjadi pada saat mobil satelit siaran mitroTipi di usir oleh massa demo karena alasan berita berita yang di suguhkan oleh mitrotipi di anggap selalu berat sebelah.

Dari yang terjadi itu, akhirnya Mitrotipi menyiasatinya dengan melepas semua logo atribut Mitrotipi yang di kenakan oleh kru ataupun reporter pada saat siaran berlangsung, bisa di lihat pada foto foto di bawa ini, terlihat pada saat reporter siaran langsung, atribut logo Mitrotipi tidak tepasang sedikitpun, mulai dari seragam yang di gunakan hingga microfon yang digunakan.



 



Continue Reading →

Ribuan Warga Pecinta Kopi Dari Bebagai Daerah Memadati Jalanan Desa Kemiren Hingga Tengah Malam


GLAGAH – Ribuan warga dari berbagai daerah tumplek blek di jalanan kampung Desa Kemiren, Glagah. Mereka berbondong-bondong datang di Desa Adat Oseng ini untuk mengikuti Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang masuk dalam agenda Banyuwangi Festival.
Deretan meja dan kursi warga yang menyuguhkan kopi memanjang di penjuru jalan utama desa. Mulai dari Sanggar Genjah Arum milik  Setiawan Subekti, menuju arah timur hingga batas Desa Kemiren dengan Kelurahan Banjarsari. Masyarakat yang datang bisa menikmati sajian  kopi gratis yang disuguhkan masyarakat lokal.  Dari tahun ke tahun, festival minum kopi   masal ini semakin dibanjiri masyarakat.
Tidak hanya suguhan kopi dari warga masyarakat saja, dalam Festival Ngopi Sepuluh Ewu ini juga banyak stand-stand usaha mikro kecil menengah (UMKM) warga yang disajikan. Mulai jajanan tradisional, kaus, lukisan, souvenir, batik, dan hingga paket wisata.
Edukasi tentang bagaimana menggoreng kopi hingga menyajikan kopi juga diadakan oleh warga. Dalam edukasi ini Komunitas Kopi Banyuwangi yang memberikan penjelasan kepada masyarakat bagaimana cara menyajikan kopi agar supaya   tersaji dengan nikmat.
Komunitas ini adalah wadah bagi pecinta kopi barista hingga pemilik cafe  yang menjual kopi di Banyuwangi.  Warga lokal juga seperti tidak mau ketinggalan. Dengan menggunakan pakaian adat Oseng, para perempuan yang sudah sepuh juga menyuguhkan bagai mana caranya menggoreng kopi dengan  cara tradisional.
“Menggoreng kopi harus diaduk terus agar biji  kopi matang  secara merata. Tidak  boleh terlalu matang biar enggak gosong,” ujar Mariati, 55, salah  satu warga Desa Kemiren. Mariati mengakui, bahwa Desa Kemiren sejatinya tidak ada kebun  kopi.
Namun kebiasaan ngopi di Desa Kemiren ini sudah berlaku sejak dahulu. Bahkan, menurutnya setiap warga desa dipastikan  memiliki cangkir (gelas kecil) khas Oseng yang digunakan untuk menyuguhkan kopi kepada tamu yang datang ke rumah.
“Minimal warga di sini punya satu lusin gelas cingkir. Ngopi bareng iku  nambah dulur (menambah persaudaraan), “ tambahnya. Ketua Lembaga Adat Desa Kemiren, Suhaimi mengatakan, ngopi bagi masyarakat kemiren adalah kebersamaan untuk menyambung persaudaraan. Kopi di Desa Kemiren adalah menu wajib untuk disajikan kepada para tamu.
“Kalau tidak memi num kopi, orang Kemiren ini  akan pusing. Ngopi bareng di  sini sudah menjadi tradisi sejak dulu untuk menambah persaudaraan, “ kata Suhaimi. Bupati Anas mengatakan, Festival  Ngopi Sepuluh Ewu merupakan salah satu dari 53 festival di Banyuwangi.
Di tahun kelima festival ngopi sepuluh ewu ini, diharapkan akan terus menambah daya tarik wisatawan untuk datang ke Desa  Kemiren. “Ngopi ini merupakan  simbol persau da raan warga Desa Kemiren dengan warga luar daerah. Pemerintah mengucapkan banyak  terima kasih kepada warga Kemiren  yang teus melestarikan tradisi ini,  “ ujarnya.(radar)
Continue Reading →

Friday, November 4, 2016

Ratusan Pendemo Asal Banyuwangi Yang Datang Tadi Malam Bergabung 1 Shaf Dengan Pendemo Lainnya Di Istiqlal

 

Jakarta - Masjid terbesar di Indonesia, Masjid Istiqlal penuh dengan massa yang akan shalat Jumat dan dilanjutkan demo 4 November. Mereka datang dari berbagai daerah.

"Saya datang tadi malam dari Banyuwangi, menginap di Masjid Istiqlal," kata anggota FUI Banyuwangi, Harif di Masjid Istiqlal, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (4/11/2016).

Masjid Istiqlal Penuh, Pendemo Ada yang dari BanyuwangiFoto: Andhika Prasetia/detikcom

Massa yang datang ke masjid telah memenuhi seluruh lantai hingga lantai 6 masjid. Mereka terlihat ada yang membaca Alquran, shalat atau berdzikir.

"Saya datang dengan rombongan, naik kereta nyambung di Surabaya," cerita Harif.

Massa memenuhi masjid dan langsung membentuk shaf-shaf. Mereka telah siap untuk mengikuti jalannya Shalat Jumat yang akan digelar beberapa saat lagi. Tidak hanya itu, massa juga memenuhi palataran dan halaman masjid.
Continue Reading →

Niat Tulus Ber Demo Tanpa Kekerasan, Pendemo Asal Bandung, Bawa Picup Berisi Penuh Tanaman untuk Pemprov DKI


Jakarta
- Rombongan LSM Gaza Jawa Barat sudah tiba di Masjid Istiqlal untuk mengikuti demonstrasi menuntut penuntasan kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnam (Ahok) siang nanti. Satu mobil pikap tanaman sudah disiapkan untuk mengganti tanaman yang kemungkinan akan rusak.

"Kami sudah tiba di Istiqlal, hanya saja mobil pikap yang membawa tanaman belum. Kalau sudah tiba akan diberikan kepada Dinas Pertamanan Pemprov DKI," ujar Ketua LSM Gaza Dody Permana kepada detikcom, Jumat (4/11/2016).

Pada awalnya mereka akan membawa satu truk tanaman untuk langsung diberikan kepada Dinas Pertamanan Pemprov DKI Jakarta. Namun karena keterbatasan anggaran untuk menyewa truk. Akhirnya hanya satu mobil pikap tanaman yang dibawa.

"Sopir truk minta sewa Rp 2,5 juta. Kami tidak punya anggaran, terbatas. Karena ini hasil patungan juga. Jadi simbolis saja dulu hari ini, satu mobil pikap," terang Dody.

Ada atau tidaknya tanaman yang dirusak saat aksi demo nanti, pihaknya tetap akan memberikan tanaman tersebut kepada Pemprov DKI Jakarta. Jika tidak diterima, maka tanaman akan dihibahkan ke Masjid Istiqlal.

"Kalau mereka tidak mau, kami berikan kepada pengelola Masjid Istiqlal," ujarnya.

LSM Gaza membawa sekitar 1.200 massa yang terdiri dari anggota dari beberapa daerah di Jabar. Di antaranya dari Tasikmalaya, Bandung, Cirebon, Karawang.
Continue Reading →

Berita Acak

    LIKE FANSPAGE

    Blog Archive