Showing posts with label Health. Show all posts
Showing posts with label Health. Show all posts

Sunday, October 30, 2016

1 lagi Inovasi dari Masyarakat Kebumen, Yaitu Inovasi Kopi Bambu Kebumen Yang Dapat Kalahkan Racikan Ala Kafe


Bagi Yuri Dulloh, sensasi minum kopi sehat dan nikmat tak harus berbiaya mahal. Lewat inovasinya, pria asal Kebumen, Jawa Tengah ini mampu menciptakan alat racikan kopi unik yang tak kalah dari sajian kopi standar kafe.
Inovasi tradisional Yuri ini bernama Kopi Bambu Bergaya Kebumen. Kopi racikan warga Pucangan, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen itu menggunakan media bambu sebagai alatnya. Sejumlah macam rasa kopi pun tercipta dari tangan dingin olahannya.
Lalu bagaimana bambu itu bisa menjadi alat penyaji kopi?
Yuri rupanya menyulap bambu atau dalam istilah Jawa disebut bumbung menjadi piranti utama penyaring ampas kopi. Bambu dipotong beberapa sentimeter sesuai bentuk gelas belimbing. Saking uniknya, saringan kopi dari bumbung itu bisa menjadi pengganti alat espresso.
Alat espresso ini tentu tak asing bagi pecinta kopi di kafe besar. Sebab melalui espresso, aneka  jenis minuman kopi tersaji. Seperti olahan moccachino, cappuchino, caffe late, dan jenis olahan kopi lainnya.
Harga alat espresso sendiri ditaksir mencapai Rp4 juta hingga Rp50 juta, dan harga jual segelas kopi espresso mencapai Rp20 ribu-Rp50 ribu. Tentu sangat mahal.
Tapi melalui kopi bambu ciptaannya, Yuri mampu mengubah paradigma bahwa untuk mendapatkan kopi standar alat espresso, orang harus merogoh kocek tebal.
"Inovasi saya bagaimana menawarkan kopi yang tak kalah dengan standar kafe. Dengan alat sederhana yakni bambu orang bisa bikin kopi late, moccachino, Americano dan lainnya. Biasanya orang dapat itu lewat espresso, tapi ini dengan sepotong bambu," katanya kepada VIVA co.id, Sabtu, 29 Oktober 2016.
Yuri menjelaskannya cukup sederhana cara menyajikan aneka rasa kopi bambu itu. Potongan sekat bambu dibuat mirip gelas dan hanya harus diberi lubang kecil untuk menyaring ampas kopi.
Berdasarkan uji cobanya selama ini, segala jenis kopi yang disaring dengan bambu itu akan memiliki rasa yang khas. Sedikit aroma bambu akan membuat aroma kopi lebih terjaga.
"Kopinya bisa sesuai selera. Memang prosesnya untuk mendapatkan satu gelas kopi bambu ini lumayan lama, antara lima sampai sepuluh menit, " ujar pria 37 tahun itu.
Uniknya, kopi hasil saringan bambu itu akan memiliki warna kuning keemasan hingga muncul buih khas espresso. Setelah itu, kopi bisa disajikan sesuai selera, baik dengan menambah gula maupun cream atau susu.
"Saya bisa jamin rasa yang tidak ada di espresso akan ditemukan di sini. Karena tingkat originalitas kopinya terasa. Orang menyangka yang saya buat adalah kopi late yang pakai susu, padahal ini hanya kopi," katanya.
Yuri telah membuat kopi bambu sejak 2011 lalu. Yuri beralasan menggunakan bambu karena tanaman tersebut banyak tumbuh di Kebumen. Melalui bambu juga Yuri juga mampu memberdayakan masyarakat sekitar.
"Agar menarik dan elegan kita minta warga membuat pernak-pernik. Seperti, kulit bambu dibubut hingga halus serta diberi ornamen gambar dan tulisan, " katanya.
Bagi pembeli yang ingin mendapatkan kopi bumbung buatannya, harga yang ditawarkan cukup terjangkau. Hanya Rp60 ribu, sudah termasuk satu sachet kopi Kebumen yang punya cita rasa oke jika diolah menjadi espresso.
Tantangan Besar
Usaha Yuri menciptakan alat sederhana dan layak jual ini rupanya tak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Pria yang telah menekuni industri kopi di usia muda itu banyak mendapatkan rintangan cemoohan.
"Orang tidak percaya kalau kopi di kawasan pesisir itu akan bagus. Tapi setelah saya buktikan justru malah cepat berbuah dan produktif. Niat saya hanya ingin mengenalkan kopi khas Kebumen, " ujar sarjana pariwisata di Yogyakarta itu.
Setelah terbiasa menanam aneka kopi di pesisir, Yuri kemudian mulai memperkanalkan inovasi kopi bambu ciptaannya di kafe-kafe sejumlah kota. Meski ribuan kali ditolak, namun kini inovasi itu banyak dipakai orang. Melalui komunitasnya Yuam Roasted Coffe Kebumen, Yuri kerap memberikan workshop tentang kopi inovasinya di sejumlah forum pecinta kopi.
Saat ini alat inovasinya sudah diminati banyak barista yang dijual langsung maupun online. Beberapa cafe seperti di Kota Magelang, Jogjakarta, Bandung sudah membuktikan inovasi Yuri. Hebatnya, Yuri juga mendapatkan pesanan dari luar negeri seperti India, Jerman, Tiongkok, dan Singapura.
Hak paten
Inovasi kreatif Yuri pun mendapatkan sambutan baik dari pemerintah. Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah kini mulai mensosialisasikan secara masif karya warga asli Kebumen itu.
Selain melakukan pendampingan, Balitbang juga masih dalam proses mendaftarkan inovasi Yuri agar mendapatkan hak atas kekayaan intelektual, baik nasional maupun internasional.
"Ini inovasi masyarakat dan sangat besar kegunaannya. Selain murah, mudah, cepat juga sangat unik. Maka kita akan fasilitasi agar kekayaan intelektualnya terlindungi, " kata Kepala Balitbang Jateng, Tegoeh Wynarno Haroeno.
Menurut Tegoeh, inovasi Yuri dengan memilih bahan bambu sebagai alat meracik kopi rupanya juga telah memperhatikan unsur medis. Ada penelitian yang menyatakan bahwa unsur bambu bisa mengurai karbohidrat dan mampu menyerap glukosa.
“Jadi, kopi yang dihasilkan dari bumbung ini, pasti kadar glukosanya minim. Otomatis karbohidrat akan terurai serta menjadi kopi rendah kalori, " jelasnya.
Continue Reading →

Thursday, October 27, 2016

AKHIRNYA!!! Hakim Memutuskan Jessica Membunuh Mirna Dengan Hukuman 20 Tahun Penjara




Jessica Kumala Wongso dihukum 20 tahun penjara. Jessica terbukti bersalah melakukan pembunuhan berenHP. Motif pembunuhan berencana dilakukan karena sakit hati Jessica terhadap Mirna. Mirna pernah menasihati Jessica agar putus dari Patrick O'Connor. 

Puncak emosi Jessica terjadi saat bertemu Mirna yang ditemani suaminya Arief Soemarko di restoran kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara pada 8 Desember 2015. 

"Pertemuan jamuan makan malam membuat pikiran terdakwa Jessica tersayat-sayat, iri hati melihat kebahagiaan pernikahan Mirna dengan Arief. Sedangkan terdakwa datang ke Jakarta dengan masalah," tegas hakim Binsar Gultom.

Setelah pertemuan ini, Jessica mencoba mengajak bertemu dengan Mirna. Pertemuan akhirnya dilakukan di kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta pada 6 Januari 2016. Saat itu Mirna tewas karena meminum es kopi vietnam yang berisi sianida. 

Majelis Hakim menyebut hanya Jessica yang 'menguasai' gelas es kopi yang dipesannya khusus buat Mirna di Kafe Olivier di meja nomor 54 yang lebih dulu dipesan Jessica. Setelah memesan VIC, Jessica lantas mengatur 3 buah paper bag di atas meja 54 dan sempat mengamati posisi dan letak kamera CCTV.

"Jessica sangat mengetahui siapa yang menggeser gelas kopi dari ujung sofa hingga ke tengah sofa dimana nantinya tempat duduk Mirna. Hingga misalnya lalat yang hinggap dalam gelas kopi tersebut pun Jessica sangat mengetahuinya. Itu sebabnya ketika korban Mirna belum datang, Jessica sangat gelisah seperti yang ditayangkan CCTV, karena jika Mirna tidak datang pasti rencana jahat Jessica berantakan," sambung Hakim Binsar.
Continue Reading →

Saturday, April 23, 2016

Buat yang Suka Kerokan, Kamu Harus Baca ini





Buat yg suka kerokan,ada penelitian menarik ni dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) tentang kerokan.


Meski ada pengobatan modern, hingga kini orang Indonesia, terutama di Jawa, tetap akrab dengan kerokan saat merasa tidak enak badan.


Seorang Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Prof Didik Gunawan Tamtomo meneliti manfaat kerokan. Penelitian itu dilakukan tahun 2003-2005.

”Kerokan adalah kearifan lokal.

Pasien saya menyatakan, kalau belum kerokan, belum puas,” kata Didik di Solo.

Pada tahap awal, Didik melakukan survei kuantitatif dan kualitatif. Hasilnya, dari 390 responden berusia 40 tahun ke atas yang mengembalikan kuesioner, hampir 90 persen mengaku kerokan saat ”masuk angin”.
Responden Didik adalah para pasien, tetangga, dan pedagang di pasar. Para responden meyakini manfaat kerokan untuk menyembuhkan ”masuk angin”.


Istilah ”masuk angin” sebenarnya tidak dikenal dalam dunia kedokteran. Masuk angin merujuk pada keadaan perut kembung, kepala pusing, demam ringan, dan otot nyeri.
Kerokan di Indonesia biasanya menggunakan uang logam ataupun alat pipih tumpul yang digerakkan di kulit secara berulang-ulang menggunakan minyak sebagai pelicin.


1. Tidak merusak
Pada tahap kedua, Didik menjadikan dirinya sebagai obyek penelitian. Ia mengerok bagian tangannya lalu dibiopsi, yaitu diambil sedikit jaringan kulit epidermisnya (kulit ari) untuk pemeriksaan mikroskopis.
”Selama ini ada anggapan, orang yang sering dikerok kulitnya akan rusak, pori-pori kulitnya membesar, atau pembuluh darahnya pecah. Namun, hasil pemeriksaan di laboratorium patologi anatomi UNS menunjukkan tidak ada kulit yang rusak ataupun pembuluh darah yang pecah, tetapi pembuluh darah hanya melebar,” kata Didik.
Melebarnya pembuluh darah membuat aliran darah lancar dan pasokan oksigen dalam darah bertambah. Kulit ari juga terlepas seperti halnya saat luluran.


2. Meningkatkan endorfin
Penelitian tahap akhir adalah penelitian biomolekuler, yakni pemeriksaan darah dari orang yang kerokan dan orang yang tidak kerokan. Didik mengumpulkan sejumlah orang dengan kondisi serupa, seperti berat badan, usia, dan mengalami nyeri otot sebagai salah satu ciri ”masuk angin”. Semua responden adalah perempuan karena mereka dinilai lebih suka kerokan daripada laki-laki.


Para responden dibagi dalam dua kelompok dan menjalani pemeriksaan darah. Kelompok pertama kemudian dikerok, sedangkan kelompok kedua tidak. Seluruh responden selanjutnya diperiksa lagi darahnya. Ada empat hal yang diamati, yakni perubahan kadar endorfin, prostaglandin, interleukin, serta komplemen C1 dan C3.
Hasilnya, kadar endorfin orang-orang yang dikerok naik signifikan. Peningkatan endorfin membuat mereka nyaman, rasa sakit hilang, lebih segar, dan bersemangat.


3. Kadar prostaglandin turun.
Prostaglandin adalah senyawa asam lemak yang antara lain berfungsi menstimulasi kontraksi rahim dan otot polos lain serta mampu menurunkan tekanan darah, mengatur sekresi asam lambung, suhu tubuh, dan memengaruhi kerja sejumlah hormon.


Di sisi lain, zat ini menyebabkan nyeri otot. Penurunan kadar prostaglandin membuat nyeri otot berkurang.
”Adapun perubahan komplemen C3, C1, dan interleukin yang menggambarkan adanya reaksi peradangan tidak signifikan,” kata Didik.


Ia menyarankan, kerokan sebaiknya dimulai dari atas ke bawah di sisi kanan dan kiri tulang belakang, dilanjutkan dengan garis-garis menyamping di punggung bagian kiri dan kanan. Alat pengerok dipegang 45 derajat agar saat bergesekan dengan kulit tidak terlalu sakit.


Salah satu unsur dalam kerokan yang mendukung pengobatan adalah hubungan emosional antara orang yang dikerok dan orang yang mengerok. ”Ibu yang mengerok anaknya sambil bercerita merupakan unsur biopsikososial dalam pengobatan yang kini digalakkan dalam pengobatan modern,” kata Didik. [Hadi Kuncoro via Facebook]

Sumber : pulsk.com



 1 2
Continue Reading →

Berita Acak