Showing posts with label BerbagaiSumber. Show all posts
Showing posts with label BerbagaiSumber. Show all posts
Sunday, November 13, 2016
LUMBIR- Pamit mencari rumput, Sanikyat (86), warga Prompong, Desa Parungkamal, Kecamatan Lumbir ditemukan meninggal di hutan Kamis (10/11) pukul 15.00 lalu.
Diduga korban mengalami serangan jantung saat mencari rumput. Pasalnya, sekitar pukul 08.00, ia pamit mencari rumput. Kanit Binmas Polsek Lumbir Aiptu Warsito mengatakan, korban diketahui pamit kepada istrinya Ngadiem (55).
Namun sampai pukul 13.00, belum juga pulang. Padahal setiap pergi mencari rumput selalu pulang untuk istirahat pada pukul 12.00. “Karena curiga korban tidak kunjung pulang, istri korban menghubungi tetangganya yaitu Sodali untuk mencari korban.
Istri korban juga bersama tetangga ikut mencari korban ke lokasi yang sering menjadi tempat mencari rumput yaitu di hutan masih berada di desa setempat,”jelas Warsito. Pada pukul 15.00, lanjut Warsito, korban ditemukan tertelungkup di hutan dalam keadaan sudah meninggal.
Warga kemudian menghubungi Polsek dan Koramil serta pemerintah desa setempat. Akhirnya korban dievakuasi dan dibawa ke Puskesmas Lumbir.
“Dari pemeriksaan tim medis, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan. Korban mengalami serangan jantung mendadak. Korban kemudian diserahkan ke pihak keluarga untuk prosesi pemakaman,”jelas Warsito. (gus/acd)
Copyright © Radarbanyumas,co,id
Friday, November 11, 2016
Lagi Lagi, Kecelakaan Mobil Avanza Seruduk Supra 125 di Glenmore, 1 Pasang Suami Istri Meninggal di Tempat
GLENMORE – Kecelakaan maut
merenggut korban jiwa kembali terjadi. Kali ini, kecelakaan yang
menyebabkan dua warga tewas di lokasi kejadian terjadi di jalur
Waringin, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore kemarin pagi (10/11).
Korban yang meninggal dengan luka cukup
parah di bagian kepala itu pasangan suami istri (pasutri), Mohammad
Hasim, 53, dan Misnati, 60, asal RT 4, RW 1, Dusun Wadung Kamidin, Desa
Tulungrejo, Kecamatan Glenmore. Kecelakaan maut itu terjadi sekitar
pukul 08.40.
Awalnya, mobil Toyota Avanza
dengan nomor polisi P 639 VR yang disopiri Hariyanto, 42, warga Desa
Karangdoro, Kecamatan Tegalsari melaju dari arah barat. “Mobil itu
kecepatan agak tinggi,” cetus Kanitlantas Polsek Kalibaru, Ipda Uuk
Supriatna.Setiba di lokasi kejadian, tiba-tiba
mobil Avanza oleng ke kiri dan menabrak motor Honda Supra 125 dengan
nomor polisi P 2125 ZN yang dinaiki pasutri Hasim dan Misnati. “Motor
yang dinaiki pasutri berada di depan mobil Avanza,” terangnya.
Usai menabrak pengendara motor itu,
terang dia, mobil Avanza yang mengangkut tujuh penumpang itu terus
meluncur dan akhirnya menabrak warung es degan yang ada di pinggir
jalan. Mobil itu baru terhenti setelah menabrak pohon mahoni.
“Mobilnya nyasak,” ungkapnya. Akibat
diseruduk mobil Avanza, pasutri yang naik motor Hasim dan Misnati
terseret oleh mobil dan meninggal di lokasi kejadian dengan luka cukup
parah di bagian kepala dan lengan. Sedang pemilik warung, Saudah, 23,
asal Dusun Krajan, Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore mengalami luka
di bagian wajah karena tertimpa bangunan warungnya.
Sopir mobil Toyota Avanza, Hariyanto
selamat berikut dengan tujuh orang penumpangnya. Para korban meninggal
dan selamat,oleh polisi dan warga langsung ditolong dengan dibawa RS
Bhakti Husada, Krikilan, Glenmore. Ada dugaan, sopir Avanza ngantuk
saat mengendarai mobil.
“Untuk sopir Avanza selamat dan kita
bawa ke Polsek Glenmore,” katanya. Sopir mobil Toyota Avanza, Hariyanto,
terlihat shock berat saat berada di polsek. Dia mengaku baru dari
Bandara Juanda, Surabaya, untuk menjemput kerabat yang pulang dari
Taiwan.
Sopir itu mengaku berangkat dari
Surabaya sekitar pukul 22.00. Selama perjalanan itu, terang dia, dua
kali istirahat, yakni di Probolinggo dan di Jember. Saat kejadian,
mobil seperti tidak bisa dikendalikan. Dia mengaku tidak sadar saat
menabrak pengendara motor di depannya.
“Saya itu nggak tahu, kata orang ban
saya meletus, tahu-tahu ada orang di depan mobil,” cetusnya. Kanitlaka
Polres Banyuwangi, Ipda Budi Hermawan, saat tiba di lokasi kejadian
mengatakan melihat kondisi TKP dan keterangan dari para saksi, kecelakan
itu mengarah pada kelalaian pengemudi mobil.
“Kalau melihat lokasinya, sepertinya ini
murni kelalaian,” jelasnya. Di lokasi itu, terang dia, meski jalurnya
lurus memang cukup rawan. Terbukti, di jalur tersebut sudah dipasang
papan peringatan agar pengendara berhati-hati. “Jalur ini memang rawan,
itu papannya harus diperjelas,” ucapnya. (radar)
Friday, November 4, 2016
Niat Tulus Ber Demo Tanpa Kekerasan, Pendemo Asal Bandung, Bawa Picup Berisi Penuh Tanaman untuk Pemprov DKI
Jakarta - Rombongan LSM Gaza Jawa Barat sudah tiba di Masjid Istiqlal untuk mengikuti demonstrasi menuntut penuntasan kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnam (Ahok) siang nanti. Satu mobil pikap tanaman sudah disiapkan untuk mengganti tanaman yang kemungkinan akan rusak.
"Kami sudah tiba di Istiqlal, hanya saja mobil pikap yang membawa tanaman belum. Kalau sudah tiba akan diberikan kepada Dinas Pertamanan Pemprov DKI," ujar Ketua LSM Gaza Dody Permana kepada detikcom, Jumat (4/11/2016).
Pada awalnya mereka akan membawa satu truk tanaman untuk langsung diberikan kepada Dinas Pertamanan Pemprov DKI Jakarta. Namun karena keterbatasan anggaran untuk menyewa truk. Akhirnya hanya satu mobil pikap tanaman yang dibawa.
"Sopir truk minta sewa Rp 2,5 juta. Kami tidak punya anggaran, terbatas. Karena ini hasil patungan juga. Jadi simbolis saja dulu hari ini, satu mobil pikap," terang Dody.
Ada atau tidaknya tanaman yang dirusak saat aksi demo nanti, pihaknya tetap akan memberikan tanaman tersebut kepada Pemprov DKI Jakarta. Jika tidak diterima, maka tanaman akan dihibahkan ke Masjid Istiqlal.
"Kalau mereka tidak mau, kami berikan kepada pengelola Masjid Istiqlal," ujarnya.
LSM Gaza membawa sekitar 1.200 massa yang terdiri dari anggota dari beberapa daerah di Jabar. Di antaranya dari Tasikmalaya, Bandung, Cirebon, Karawang.
Monday, October 31, 2016
Indahnya Pantai Klayar, Banyak Wisatawan Berburu Lanskap Indah Pantai Klayar Pacitan
Perjalanan menyusuri pesisir Pantai Klayar itupun sampai di depan spot karang Spink Van Java. Ada pantai berbentuk lengkung dengan hamparan pasir putih nan eksotis.Orang-orang bergegas turun dari area parkir kendaraan yang ada di atas perbukitan untuk segera sampai di tepian Pantai Klayar, satu dari sekian pantai-pantai di Kabupaten Pacitan yang paling banyak dikunjungi wisatawan.
Liat lembek yang menutup sebagian besar permukaan bukit di sisi barat Pantai Klayar itu seolah diabaikan.
Hujan yang mengguyur bumi pertiwi bagian Pacitan semalam rupanya membuat sepatu yang menjadi alas kaki ini terasa bebal. Terutama setelah air bercampur liat yang membuatnya menjadi lengket. Para pelancong yang datang berombongan terus berjalan, meski langkah terasa berat.
Winna dan Deo, dua wisatawan domestik asal ibu kota Jakarta (namun asli Magelang) ada di antara mereka. Sambil menenteng kamera tipe DSLR dan sebuah tas, mereka bergegas turun mengikuti para wisatawan lain.
Sedikit terengah, mungkin karena masih sedikit lelah setelah menempuh perjalanan 2,5 jam dari bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Keduanya terus melangkah, dan sesekali berlari kecil hingga sampai di area hamparan pasir ujung Pantai Klayar yang berbatasan dengan bukit.
Tak langsung masuk ke air. Winna memilih berdiri berdiri mematung di atas hamparan pasir pantai sembari matanya melihat orang-orang di sekelilingnya.
Sementara Deo, asyik berimprovisasi dengan kamera digital yang dijinjingnya sejak dari atas bukit, mengambil beberapa angel lanskap, perilaku narsis para wisatawan, hingga aktivitas pelaku usaha jasa kendaraan ATV (all terrain vehicle).
Banyak sekali wisatawan yang datang menikmati pesona wisata Pantai Klayar pada akhir pekan itu. Pantai yang panjang membentang dengan keindahan panorama pesisir yang berlapis menjadi daya tarik tersendiri.
Dari titik ujung pantai bagian barat tempat Winna dan Deo berdiri, terdapat hamparan pasir cukup luas, anakan sungai kecil pecahan muara yang membelah pantai, pantai berlantai karang tempat wisatawan berburu kerang dan aneka biota laut di tengah, hingga hamparan pasir putih di ujung timur yang indah.
"Di ujung (pantai) paling timur ini terdapat susunan batuan karst yang tersusun secara alami menyerupai patung spink di Mesir. Orang-orang menyebutnya spot batuan karst yang menjorok ke pantai itu dengan istilah 'Spink Van Java'," kata Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olaharaga Kabupaten Pacitan Wasi Prayitno.
Bentang pantai yang cukup jauh, konon mencapai tiga kilometer lebih, itu dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk menyediakan jasa tumpangan atau persewaan ATV berkapasitas maksimal tiga orang.
Tarifnya cukup murah, hanya Rp50 ribu pulang-pergi dari ujung ke ujung Pantai Klayar. Namun kendali stir dipegang operator ATV. Jika ingin menyetir sendiri tarifnya beda, yakni Rp75 ribu per jam.
"Satu jam molor 5-10 menit di saya tidak apa-apa deh. Kalau yang lain itu sudah masuk hitungan jam kedua," kata Soni, salah satu operator jasa ATV menawarkan.
Jika wisatawan yang menjadi pengguna jasa sepakat, mereka bisa menikmati keindahan panorama Pantai Klayar yang berlapis itu tanpa harus kelelahan. Mulai dari spot pasir tempat mangkal komunitas jasa usaha ATV, hingga spot Spink Van Java.
"Jauh memang. Tapi rasanya akan lebih 'fun' (menyenangkan) dengan berjalan kaki," tutur Winna yang menolak tawaran jasa ATV.
Bersama Deo, sahabatnya, Winna yang asli Magelang, Jawa Tengah ini memilih menikmati setiap jengkal pasir dan kecipak air di pantai berlantai karang bagian tengah sembari ikut berburu kerang bersama beberapa wisatawan lain.
Perjalanan menyusuri pesisir Pantai Klayar itupun sampai di depan spot karang Spink Van Java. Ada pantai berbentuk lengkung dengan hamparan pasir putih nan eksotis.
Sangat memesona. Sayang, saat Winna dan Deo berpetualang di sana, gelombang air pasang sedang tidak stabil dampak cuaca ekstrem.
Jangankan mandi dan berenang di area pantai, struktur karang di bawah gugusan batuan karst yang terdapat spot air mancur alami atau biasa disebut "seruling samudera" bahkan ditutup total.
Deo dan Winna akhirnya hanya memilih naik ke puncak bukit yang menjadi gardu pandang wisatawan untuk melihat dan mengabadikan lanskap pesisir Pantai Klayar yang fenomenal.
Bagi pemburu foto, sepertinya akan jauh lebih menarik saat mengambil momen senja menjelang matahari terbenam yang biasanya diiringi efek jingga dan biru langit yang cerah.
Wisata Unggulan Daerah
Pantai Klayar yang berjarak sekitar 60 kilometer atau berjarak tempuh sekitar dua jam dari pusat kota Pacitan itu kini menjadi destinasi wisata andalan daerah setempat.
Hal itu tak lepas dari lonjakan pendapatan asli daerah (PAD) yang disumbangkan objek wisata yang kian moncer sejak kunjungan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono saat masih menjabat pada Oktober 2013.
Sejak itu, wisata pantai Klayar yang mematok harga tiket masuk Rp10 ribu untuk pengunjung dewasa, Rp5 ribu untuk pengunjung usia anak, dan parkir kendaraan hanya Rp5 ribu tersebut terus menggeliat.
PAD dari hasil penjualan tiket wisata, parkir, maupun retribusi warung-warung wisata juga terus bertumbuh sehingga menjadi penyumbang PAD terbesar dari enam destinasi wisata pantai yang telah dikelola Pemkab Pacitan.
Dari total target PAD sektor pariwisata 2016 yang dipatok sebesar Rp9 miliar, Kepala Disparpora Pacitan Wasi Prayitno menyatakan dari objek wisata Pantai Klayar diproyeksikan mencapai Rp4 miliar.
"PAD ini baru sebagian kecil, paling hanya sekitar 10-15 persen dari total potensi nilai ekonomi yang berputar sebagai meningkatnya volume kunjungan wisatawan," ujar Wasi.
Menilik grafik kunjungan wisata yang tercatat di Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur, volume wisatawan di Pantai Klayar memang mengalami pertumbuhan fantastis.
Dari sebelumnya tercatat sebanyak 45.888 pengunjung selama kurun 2012, jumlah wisatawan terus bertumbuh menjadi 50.209 wisatawan pada 2013, lalu 155.872 wistawan pada 2014 dan terakhir pada 2015 mencapai 352.139 orang.
Jumlah kunjungan di Pantai Klayar itu bahkan sudah melampuai angka kunjungan wisatawan Goa Gong yang lebih dulu moncer (2012 sebanyak 138.193 wisatawan dan pada 2015 tercatat sebanyak 246.842 wisatawan), atau sedikit di bawah Pantai Teleng Ria, Pacitan yang dikelola swasta sejak 2009 dengan jumlah kunjungan 242.796 pada 2012 dan sebanyak 427.262 pada akhir 2015.
Menurut Wasi, lonjakan kunjungan serta PAD dari Pantai Klayar tak lepas dari strategi daerah setempat dalam pengembangan sektor keparwisataan, salah satunya dengan pengembangan infrastruktur di jalur-jalur menuju objek wisata pesisir yang kian terbuka.
Jika tahun lalu dialokasikan anggaran pengembangan infrastruktur pariwisata sebesar Rp14 miliar pada 2015, tahun ini pusat menggelontor melalu dana alokasi umum sebesar Rp20 miliar lebih.
Salah satu prioritas pembangunan yang saat ini digenjot adalah pengembangan dan pelebaran infrastruktur jalan menuju daerah-daerah pesisir, termasuk menuju Pantai Klayar mulai dari pusat kota Kecamatan Punung melalui area wisata Goa Gong hingga Pantai Klayar yang berjarak hampir 10 kilometer.
Jika dulu wisatawan banyak yang mengeluhkan akses menuju kawasan pesisir ini yang sempit dan rusak, tahun ini kondisinya sudah jauh berbeda. Sepanjang perjalanan Winna dan Deo bahkan tergolong lancar seperti melaju di jalur tol.
Hanya sekitar 15 persen rute menuju Pantai Klayar yang saat ini masih dalam proses pengerjaan sehingga pengendara yang melintas wajib berhati-hati dengan kecepatan rendah.
Namun jangan pula khawatir, di sepanjang jelan menuju ataupun sekembali dari Pantai Klayar ini, terutama saat peak season atau saat musim libur, ada sejumlah warga yang siap memberi aba-aba bagi kendaraan yang melintas di jalur berkelok dan naik turun itu agar tidak terjadi kecelakaan antarkendaraan pengunjung.
Tapi juga bukan gratis lo, sisihkan barang Rp500 atau Rp1.000 sebagai tanda terima kasih atas jasa mereka yang bersusah payah membantu mengatur lalu lintas di jalur sempit dan berkelok itu agar lalu lintas tertib tanpa kecalakaan. Selamat berpetualang!(*)
Editor: Chandra Hamdani Noer Sumber : Antara
WISATA AIR TEJUN JEDINGAN PESANGGARAN, BANYUWANGI MEMAKAN KORBAN JIWA

BANYUWANGI, (suarajatimpost,com) - Wisata air terjun Jedingan yang berada di Perkebunan Sungai Lembu milik PTPN XII, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, memakan korban jiwa.
Kemarin siang sekitar pukul 12.30 WIB, seorang remaja perempuan bernama Kholisotul Magfiroh (16), asal Dusun Pecemengan, Desa Buluagung, Kecamatan Siliragung, ditemukan meninggal dunia dan mengapung di Sungai Lembu.
Anak ketiga dari pasangan Makruf dan Mardiyah ini, tercatat sebagai siswi kelas IX di MTsN Buluagung, Kecamatan Siliragung.
Menurut Ammi Nadia, yang merupakan sepupu korban, Kholisatul meninggal lantaran terpeleset dan jatuh ke air terjun Jedingan. Karena air terlalu dalam dan korban tidak bisa berenang, akhirnya korban tenggelam.
“Kata saksi mata yang ada dilokasi, Nisa terpeleset dan jatuh kedalam air, ditunggu kok tidak muncul-muncul naik ke permukaan, setelah muncul dia sudah meninggal,” katanya kepada suarajatimpost,com Minggu (30/10).
Sementara itu saat dikonfirmasi, Kapolsek Pesanggaran, AKP Sudarsono, membenarkan kejadian ini. Katanya, setelah mendapat laporan dari warga, aparat langsung bergegas menuju ke lokasi kejadian. Namun saat aparat tiba korban sudah tidak bernyawa lagi.
“Keterangan sejumlah saksi, korban terpeleset dan tidak bisa berenang. Ini kemungkinan menjadi faktor penyebab korban meninggal dunia,” tambah Sudarsono.
AKP Sudasono menghimbau kepada masyarakat terutama kalangan remaja, untuk lebih berhati-hati ketika berwisata, jika memang tidak bisa berenang sebaiknya jangan memaksakan mandi di wisata air. "Ini demi keamanan," tegasnya.
Dianggap Coreng Nama Indonesia,Rumah Sri Utami Juminten Dilacak Oleh Aktivis Keluarga Migran Indonesia (KAMI) asal Banyuwangi
BANYUWANGI--Aktivis Keluarga Migran Indonesia (KAMI) asal Banyuwangi mendatangi Kantor Desa Mangunrejo, Ngadiluwih, Kabupaten Kediri untuk melacak tempat tinggal Sri Utami Juminten.
Sri adalah TKW di Hongkong yang dianggap melecehkan budaya bumi Blambangan.
Pasalnya, dia mengunggah video dan foto-foto vulgarnya ke Facebook.
Ketua Organisasi Kami Banyuwangi Krisna Hadi mengatakan, tindakan Sri mengunggah video tak senonoh telah melukai masyarakat Banyuwangi dan juga para TKI yang kini bekerja di luar negeri.
Itu sebabnya para aktivis KAMI turun langsung ke Kediri untuk menindak lanjuti laporan mengenai alamat tempat tinggalnya.
"Organisasi KAMI juga sudah melaporkan kasus tersebut kepada kepolisian resort Banyuwangi," kata Krisna.
Berdasarkan data penduduk Desa Mangunrejo, ada satu warga yang bernama Sri Utami tinggal di Dusun Beduk.
Yang bersangkutan sudah lama menjadi TKW ke luar negeri.
Kalangan pemuda desa setempat mengaku telah mengetahui adanya tindakan tidak terpuji Sri tersebut.
Namun, menurut Maksun Kepala Dusun setempat, kasus tersebut adalah tanggung jawab pribadi yang bersangkutan.
Aktivis Kami Banyuwangi berharap melalui hasil investigasi yang dilakukan bisa menjadi bahan pertimbangan pemerintah dan aparat kepolisian.
Mereka berharap polisi menjatuhkan sanksi pidana karena tindakan Sri melanggar Undang-Undang Informasi Dan Transaksi Elektronik, ITE nomor 11 tahun 2008. (pul/flo/jpnn)
Sunday, October 30, 2016
1 lagi Inovasi dari Masyarakat Kebumen, Yaitu Inovasi Kopi Bambu Kebumen Yang Dapat Kalahkan Racikan Ala Kafe
Bagi Yuri Dulloh, sensasi minum kopi sehat dan nikmat tak harus berbiaya mahal. Lewat inovasinya, pria asal Kebumen, Jawa Tengah ini mampu menciptakan alat racikan kopi unik yang tak kalah dari sajian kopi standar kafe.
Inovasi tradisional Yuri ini bernama Kopi Bambu Bergaya Kebumen. Kopi racikan warga Pucangan, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen itu menggunakan media bambu sebagai alatnya. Sejumlah macam rasa kopi pun tercipta dari tangan dingin olahannya.
Lalu bagaimana bambu itu bisa menjadi alat penyaji kopi?
Yuri rupanya menyulap bambu atau dalam istilah Jawa disebut bumbung menjadi piranti utama penyaring ampas kopi. Bambu dipotong beberapa sentimeter sesuai bentuk gelas belimbing. Saking uniknya, saringan kopi dari bumbung itu bisa menjadi pengganti alat espresso.
Alat espresso ini tentu tak asing bagi pecinta kopi di kafe besar. Sebab melalui espresso, aneka jenis minuman kopi tersaji. Seperti olahan moccachino, cappuchino, caffe late, dan jenis olahan kopi lainnya.
Harga alat espresso sendiri ditaksir mencapai Rp4 juta hingga Rp50 juta, dan harga jual segelas kopi espresso mencapai Rp20 ribu-Rp50 ribu. Tentu sangat mahal.
Tapi melalui kopi bambu ciptaannya, Yuri mampu mengubah paradigma bahwa untuk mendapatkan kopi standar alat espresso, orang harus merogoh kocek tebal.
"Inovasi saya bagaimana menawarkan kopi yang tak kalah dengan standar kafe. Dengan alat sederhana yakni bambu orang bisa bikin kopi late, moccachino, Americano dan lainnya. Biasanya orang dapat itu lewat espresso, tapi ini dengan sepotong bambu," katanya kepada VIVA co.id, Sabtu, 29 Oktober 2016.
Yuri menjelaskannya cukup sederhana cara menyajikan aneka rasa kopi bambu itu. Potongan sekat bambu dibuat mirip gelas dan hanya harus diberi lubang kecil untuk menyaring ampas kopi.
Berdasarkan uji cobanya selama ini, segala jenis kopi yang disaring dengan bambu itu akan memiliki rasa yang khas. Sedikit aroma bambu akan membuat aroma kopi lebih terjaga.
"Kopinya bisa sesuai selera. Memang prosesnya untuk mendapatkan satu gelas kopi bambu ini lumayan lama, antara lima sampai sepuluh menit, " ujar pria 37 tahun itu.
Uniknya, kopi hasil saringan bambu itu akan memiliki warna kuning keemasan hingga muncul buih khas espresso. Setelah itu, kopi bisa disajikan sesuai selera, baik dengan menambah gula maupun cream atau susu.
"Saya bisa jamin rasa yang tidak ada di espresso akan ditemukan di sini. Karena tingkat originalitas kopinya terasa. Orang menyangka yang saya buat adalah kopi late yang pakai susu, padahal ini hanya kopi," katanya.
Yuri telah membuat kopi bambu sejak 2011 lalu. Yuri beralasan menggunakan bambu karena tanaman tersebut banyak tumbuh di Kebumen. Melalui bambu juga Yuri juga mampu memberdayakan masyarakat sekitar.
"Agar menarik dan elegan kita minta warga membuat pernak-pernik. Seperti, kulit bambu dibubut hingga halus serta diberi ornamen gambar dan tulisan, " katanya.
Bagi pembeli yang ingin mendapatkan kopi bumbung buatannya, harga yang ditawarkan cukup terjangkau. Hanya Rp60 ribu, sudah termasuk satu sachet kopi Kebumen yang punya cita rasa oke jika diolah menjadi espresso.
Tantangan Besar
Usaha Yuri menciptakan alat sederhana dan layak jual ini rupanya tak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Pria yang telah menekuni industri kopi di usia muda itu banyak mendapatkan rintangan cemoohan.
"Orang tidak percaya kalau kopi di kawasan pesisir itu akan bagus. Tapi setelah saya buktikan justru malah cepat berbuah dan produktif. Niat saya hanya ingin mengenalkan kopi khas Kebumen, " ujar sarjana pariwisata di Yogyakarta itu.
Setelah terbiasa menanam aneka kopi di pesisir, Yuri kemudian mulai memperkanalkan inovasi kopi bambu ciptaannya di kafe-kafe sejumlah kota. Meski ribuan kali ditolak, namun kini inovasi itu banyak dipakai orang. Melalui komunitasnya Yuam Roasted Coffe Kebumen, Yuri kerap memberikan workshop tentang kopi inovasinya di sejumlah forum pecinta kopi.
Saat ini alat inovasinya sudah diminati banyak barista yang dijual langsung maupun online. Beberapa cafe seperti di Kota Magelang, Jogjakarta, Bandung sudah membuktikan inovasi Yuri. Hebatnya, Yuri juga mendapatkan pesanan dari luar negeri seperti India, Jerman, Tiongkok, dan Singapura.
Hak paten
Inovasi kreatif Yuri pun mendapatkan sambutan baik dari pemerintah. Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah kini mulai mensosialisasikan secara masif karya warga asli Kebumen itu.
Selain melakukan pendampingan, Balitbang juga masih dalam proses mendaftarkan inovasi Yuri agar mendapatkan hak atas kekayaan intelektual, baik nasional maupun internasional.
"Ini inovasi masyarakat dan sangat besar kegunaannya. Selain murah, mudah, cepat juga sangat unik. Maka kita akan fasilitasi agar kekayaan intelektualnya terlindungi, " kata Kepala Balitbang Jateng, Tegoeh Wynarno Haroeno.
Menurut Tegoeh, inovasi Yuri dengan memilih bahan bambu sebagai alat meracik kopi rupanya juga telah memperhatikan unsur medis. Ada penelitian yang menyatakan bahwa unsur bambu bisa mengurai karbohidrat dan mampu menyerap glukosa.
“Jadi, kopi yang dihasilkan dari bumbung ini, pasti kadar glukosanya minim. Otomatis karbohidrat akan terurai serta menjadi kopi rendah kalori, " jelasnya.
Dianggap tak Mampu Beli Iphone Karena Penampilannya, Pria Ini Beli Semua Iphone dengan Total 120 Juta Dan Di Hancurkan Di Depan Tokonya
DETIKZONE.NET - Sampai hari ini masih saja ada, menilai seseorang berdasarkan penampakan luarnya saja. Kisah yang cukup klise ini terjadi di negeri dengan penduduk lebih dari satu miliar, Tiongkok.
Dilansir dari worldofbuzz.com, seorang pria hari itu mendatangi sebuah gerai untuk memperbaiki Iphone-nya yang rusak. Namun kedatangan laki-laki yang hanya memakai kaos panjang ini memperoleh sambutan yang tak menyenangkan.
Pria itu sebagai konsumen malah diperlakukan sangat tidak baik. Alih-alih dilayani, pemilik toko ponsel itu malah menghinanya. Pemilik gerai menolak memperbaiki iPhone yang rusak tersebut.
"Perbaiki apa, kalau punya uang beli aja yang baru. Kalau tak punya uang, mending kamu pergi ke toko lain saja.
Mendengar respon pemilik toko yang tak ramah itu, laki-laki itu berang. Terjadilah perang mulut antar keduanya. Pria itu melihat beberapa iPhone tertata rapi di dalam gerai kaca.
Ia pun menantang, mau membeli semua iPhone yang dijual oleh pemilik toko yang sombong itu. Untuk kedua kali, pemilik toko menghinanya. Ia menganggap apa yang diucapak pria itu hanya main-main saja. Pemilik toko tak yakin dengan omongan yang diucapkan tamunya.
Pria itu kemudian membeli semua iPhone yang dimiliki toko itu.. Terdapat 10 buah iPhone yang dipajang di gerai, dan semua dibelinya. Ia membayar seluruh ponsel tersebut tunai. Laki-laki itu mengeluarkan uang sebanyak Rp 120 jutaan.
Namun apa yang dilakukan pria yang baru saja membeli iPhone itu sungguh mengejutkan. Semua iPhone yang telah mereka beli dihancurkan memakau palu. Tanpa sayang, pria itu mengayunkan palu ke ponsel-ponsel yang harganya tak terbeli bagi kebanyakan orang itu.
The New Paradise of Indonesian Tourism ,Dermaga APBN di Boom Marina Banyuwangi
BeritaTerkini.id > The New Paradise of Indonesian Tourism sejatinya merupakan ungkapan yang tepat untuk menggambarkan Banyuwangi dengan berbagai potensi wisata mengagumkan sehingga menarik wisatawan asing dan domestik untuk menikmati pesonanya. Hal ini dibuktikan dengan kedatangan perdana kapal pesiar MS. Silver Discoverer yang bersandar melalui Pelabuhan Tanjung Wangi.
Kedepannya tidak menutup kemungkinan Boom Marina Banyuwangi menjadi kawasan wisata marina kebanggaan kota Banyuwangi yang melayani rute untuk yacht, nantinya juga akan menyediakan fasilitas untuk kapal pesiar.
Pantai Boom sebagai area yang dikembangkan menjadi Boom Marina Banyuwangi terdapat dermaga yang dibangun menggunakan dana APBN oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang rencananya akan dikerjasamakan dengan Pelindo III melalui unit kerjanya yaitu PT Pelindo Properti Indonesia.
“Rencananya kami akan bekerjasama membuat dermaga APBN ini untuk sandar kapal pesiar di wilayah Boom Marina Banyuwangi,” ungkap Prasetyo, CEO PT Pelindo Properti Indonesia.
Dalam keterangannya, Prasetyo menyampaikan bahwa ijin prinsip dan ijin pendukung lainnya telah didapat oleh PT Pelindo Properti Indonesia. “Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sangat men-support pembangunan Pelabuhan Wisata ini, tinggal menunggu waktu saja, “ jelas Prasetyo.
“Saat ini pembangunan Boom Marina Banyuwangi telah mencapai tahap pembangunan dinding penahan tanah dermaga marina, sedangkan untuk pembangunan tahap satu area ecopark di Pulau Wangi sudah mencapai pembangunan fisik 40 persen,” imbuhnya.
Harapannya Tahun 2017 akan dilaksanakan Sail to Banyuwangi yang merupakan rangkaian dari Sail Indonesia. Event ini merupakan event besar dengan peserta dari berbaga nergara diantaranya Australia, Singapura, Thailand dan Malaysia yang rencana pelaksanaannya sedang didiskusikan dengan Kementerian Pariwisata.
Friday, October 28, 2016
Dalam Sepekan, 17 Pengendara Kendaraan Bermotor Roda Dua Celaka Jalan Berlubang di Desa Kembangan Bekas Galian PDAM
MAGETAN - Jalan berlubang di Desa Kembangan, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan akibat bekas galian perbaikan pipa instalasi air PDAM membawa korban.
Dalam sepekan, 17 pengendara kendaraan bermotor roda dua celaka di lokasi itu. Seorang di antaranya anggota TNI AU yang terluka dan harus diangkut pakai ambulans.
Akibat itu, jalan kelas tiga yang sering dilewati kendaraan melebihi tonase itu sempat ditanami pohon pisang oleh warga setempat.
Ini dilakukan agar tidak ada korban lagi yang terperosok jalan tersebut. Dan juga sebagai kritik kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan.
"Baru dua hari lalu, dalam semalam ada tiga korban yang jatuh, karena lubang jalan itu. Ketiga korban relatif luka parah, satu orang Desa/Kecamatan Ngariboyo, dua warga Desa Temboro, Kecamatan Karas,"kata Eko Sugeng, warga yang rumahnya tepat di sebelah lubang jalan itu, kepada Surya Online, Minggu (23/10/2016).
Eko Sugeng membenarkan dari 17 orang yang celaka akibat terperosok jalan berlubang yang tepat di depan rumah anggota Polisi Resor Magetan dan mantan Kepala Desa setempat itu salah satunya anggota TNI AU warga Desa Winong, Kecamatan Maospati.
"Anggota TNI AU itu bertugas di Jogjakarta. Dia dilarikan dengan ambulans ke RSU Lanud Iswahjudi. Informasinya patah tulang kaki,"ujar pekerja pabrik gula Poerwodadi, Glodok, Kecamatan Karangrejo, Magetan ini.
Kepala UPTD Wilayah V, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bina Marga dan Cipta Karya Kabupaten Magetan, Hadzaini Aziz membenarkan, kerusakan jalan yang sering mencelakan pengendara kendaraan bermotor itu akibat urukan bekas galian perbaikan pipa instalasi air PDAM.
"Disini banyak instalasi pipa air PDAM, mestinya saat perbaikan itu tanah urukan menggunakan Agregat (campuran pasir dan batu kerikil), tapi hanya diurug tanah biasa, sehingga amblas yang dalam,"kata Aziz begitu biasa dipanggil kepada Surya Online, Minggu (23/10/2016).
Apalagi, tambah Aziz, jalan kelas tiga yang seharusnya tidak diperbolehkan dilewati kendaraan melebihi tonase di atas tiga ton itu, faktanya setiap har dilewati kendaraan tersebut.
"Sudah urukan tidak sesuai dengan teknis, kendaraan yang lewat hampir seluruhnya melebihi tonase, tidak sesuai kelas jalan yang ada,"kata Aziz. Sumber : Surya,co,id
Thursday, October 27, 2016
TAMBANG PASIR KULONPROGO, Jalur Tambang Korbankan Tanggul Sawah Warga dan Dikhawatirkan Jebol
Harianjogja - KULONPROGO — Warga Dusun Sawahan, Banaran, Galur mengeluhkan tanggul sawahnya yang dijadikan jalur kendaraan pengangkut pasir. Pasalnya, tanggul dikhawatirkan akan jebol karena tidak mampu menahan berat kendaraan tersebut.
Tanggul tersebut dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) yang digunakan warga sebagai jalan untuk pertanian dan mencegah air sungai meluap ke areal persawahan. Karena itu jika tanggul tersebut jebol maka sawah sekitar akan terendam banjir. Haryadi Suyitno, warga setempat mengatakan bahwa warga tidak keberatan dengan aktivitas pertambangan tersebut.
“Tapi harus sesuai prosedur, tanggul ini untuk pertanian bukan untuk tambang,” tegasnya ketika ditemui di lokasi, Rabu (26/10/2016).
Aktivitas pertambangan tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak tiga bulan lalu, tetapi proses produksi baru dilakukan sekitar lima hari belakangan. Setiap harinya, sekitar 40 kendaraan pengangkut pasir yang keluar masuk melalui jalur tersebut. Haryadi mengungkapkan perusahaan penambang sebaiknya membuat jalur tersendiri untuk aktivitasnya.Sebelumnya, aktivitas pertambangan menggunakan jalur di sisi yang berbeda. Namun, jalur tersebut kemudian digunakan oleh pemilik lahan dan kendaraan pengangkut berpindah jalur.
Terlebih, jalur yang dipadati oleh kendaraan tersebut mengganggu aktivitas warga setempat. Berdasarkan pantauan di lapangan, tanggul sepanjang sekitar 80 meter tersebut memang menjadi akses utama ke lokasi penambangan. Sejumlah kendaraan nampak lalu lalang dengan rentang waktu yang cukup padar.
Kondisi jalan nampak rusak parah dan berlubang-lubang di berbagai sisi. Kala musim hujan, jalur tanggul tersebut juga mulai becek dan menyulitkan warga yang lewat. Meski demikian, sebuah alat berat juga nampak berupaya memadatkan jalur tersebut kemarin. Hal itu dilakukan dengan menimbung sejumlah tanah dan pasir di badan jalur.
Tukang Loak Sudah Deal Seharga 1 Juta, Temuan Wajan Raksasa Akhirnya Di Pindah Ke Museum Tosan Aji Purworejo
Wajan Raksasa Dipindah ke Museum Tosan Aji Purworejo
Mengira hanya sekadar besi tidak bernilai, pekerja bangunan nyaris menjualnya ke tukang loak senilai Rp 1 juta. Niatan itu pun gagal, karena takut berurusan dengan polisi.
BUDI AGUNG, Purworejo
Selalu ada cerita di balik sebuah temuan. Demikian pula dengan wajan berukuran raksasa yang ditemukan pekerja proyek pembanguann Depo Arsip Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Purworejo, Selasa (25/10). Benda itu dikira hanya besi biasa yang masuk barang bekas dan memiliki nilai rupiah, walaupun tidak banyak.
Adalah Siswanto dan Marno, dua pekerja yang pertama kali alat kerjanya terantuk benda keras. Dibersihkan lebih jauh ternyata benda itu memiliki lingkar cukup lebar. Tiga pekerja lain, Lukas, Irul dan Udin, turut membantu melakukan penggalian septic tank yang baru mendapat kedalaman sekitar satu meter tersebut.
Berkali-kali mendaratkan alat di benda tersebut, mereka meyakini jika itu adalah besi yang sudah mulai berkarat. Lukas yang memiliki kenalan seorang tukang loak mencoba berkomunikasi jika dirinya dan lima temannya memiliki besi besar.
“Kebetulan saya yang punya kontak tukang loak itu. Sudah mendatangi lokasi dan disepakati harganya Rp 1 juta. Tapi dia minta besi itu diangkat dan rencananya hari ini (kemarin, Red) akan dibawa,” kata Lukas saat membantu pemindahan wajan berukuran besar itu ke Museum Tosan Aji Purworejo, kemarin (26/10).
Namun segera beredarnya temuan wajan berukuran besar itu mendapat perhatian banyak pihak. Sehingga mengundang pihak terkait untuk melakukan pengecekan ke lokasi dan melarang penjualan ke pihak lain.
“Tahu dilarang dijual ya kami ikut saja. Kami takut kalau sampai berurusan dengan polisi. Terus terang, awalnya kami tidak tahu kalau benda itu masuk benda yang memiliki sejarah,” tambahnya.
Adanya temuan benda itu ditindaklanjuti Pengelola Museum Tosan Aji dan dilaporkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah untuk dilakukan pengecekan dan pantuan langsung di lapangan. Memiliki diameter 1,75 meter dan ketebalan 3 sentimeter serta berat diperkirakan mencapai 500 kg, wajan itu dipindahkan ke Museum Tosan Aji untuk pengamanan dan penyelamatan.
“Wajan ini tidak lengkap dan hanya bagian bawah saja yang ada. Ada juga temuan penyerta yang ditemukan di dekat wajan yakni tiga besi kecil dengan perincian dua memanjang dan satu lingkaran seperti tempat meletakkan minyak,” ujar Junawan, Seksi Penyelamatan BPBC Jateng.
Ketiga benda ditemukan pertama kali di atas wajan. Dan diperkirakan tidak ada benda lain lagi yang memiliki hubungan dengan temuan itu. Hal ini didasarkan pada lokasi tertanamnya wajan di mana tidak terdapat tungku api seperti temuan di Kutoarjo beberapa waktu lalu.
“Kalau disamakan, ini seperti temuan wajan di batang. Jadi wajan hanya tertanam saja di dalam tanah tanpa ada temuan pendukung,” tambah Junawan yang datang didampingi Seksi Pengamanan Harun Al Rosyid.
Sebagai langkah penelitian, pihaknya juga membawa patahan wajan dari lokasi yang akan dilakukan penelitian untuk mengetahui resido yang dikandung dalam wajan. Terkait usia wajan, Junawan mengaku secara absolut tidak bisa menyatakan, namun secara relatif hal itu bisa diketahui.
“Kami akan membandingkan dengan temuan-temuan yang sudah ada,” tambahnya.
“Kami akan membandingkan dengan temuan-temuan yang sudah ada,” tambahnya.
Pantauan Radar Jogja, proses evakuasi wajan cukup memakan waktu dan membuat arus lalulintas di depan Depo Arsip Arpusda Purworejo tersendat. Berhasil diangkat, wajan selanjutnya dimasukkan ke truk miliki DPU untuk dibawa ke Museum Tosan Aji yang berjarak sekitar 1 km dari lokasi.
Wajan kemudian ditempatkan di sebelah barat wajan raksasa yang telah ada di Museum Tosan Aji. Ditilik dari dasar wajan, sangat mungkin besar wajan yang ditemukan terakhir lebih besar jika dalam kondisi utuh. (laz/mg2)
Sudah Deal Dengan Tukang Loak Seharga 1 Juta, Temuan Wajan Raksasa Akhirnya Di Pindah Ke Museum Tosan Aji Purworejo
Wajan Raksasa Dipindah ke Museum Tosan Aji Purworejo
Mengira hanya sekadar besi tidak bernilai, pekerja bangunan nyaris menjualnya ke tukang loak senilai Rp 1 juta. Niatan itu pun gagal, karena takut berurusan dengan polisi.
BUDI AGUNG, Purworejo
Selalu ada cerita di balik sebuah temuan. Demikian pula dengan wajan berukuran raksasa yang ditemukan pekerja proyek pembanguann Depo Arsip Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Purworejo, Selasa (25/10). Benda itu dikira hanya besi biasa yang masuk barang bekas dan memiliki nilai rupiah, walaupun tidak banyak.
Adalah Siswanto dan Marno, dua pekerja yang pertama kali alat kerjanya terantuk benda keras. Dibersihkan lebih jauh ternyata benda itu memiliki lingkar cukup lebar. Tiga pekerja lain, Lukas, Irul dan Udin, turut membantu melakukan penggalian septic tank yang baru mendapat kedalaman sekitar satu meter tersebut.
Berkali-kali mendaratkan alat di benda tersebut, mereka meyakini jika itu adalah besi yang sudah mulai berkarat. Lukas yang memiliki kenalan seorang tukang loak mencoba berkomunikasi jika dirinya dan lima temannya memiliki besi besar.
“Kebetulan saya yang punya kontak tukang loak itu. Sudah mendatangi lokasi dan disepakati harganya Rp 1 juta. Tapi dia minta besi itu diangkat dan rencananya hari ini (kemarin, Red) akan dibawa,” kata Lukas saat membantu pemindahan wajan berukuran besar itu ke Museum Tosan Aji Purworejo, kemarin (26/10).
Namun segera beredarnya temuan wajan berukuran besar itu mendapat perhatian banyak pihak. Sehingga mengundang pihak terkait untuk melakukan pengecekan ke lokasi dan melarang penjualan ke pihak lain.
“Tahu dilarang dijual ya kami ikut saja. Kami takut kalau sampai berurusan dengan polisi. Terus terang, awalnya kami tidak tahu kalau benda itu masuk benda yang memiliki sejarah,” tambahnya.
Adanya temuan benda itu ditindaklanjuti Pengelola Museum Tosan Aji dan dilaporkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah untuk dilakukan pengecekan dan pantuan langsung di lapangan. Memiliki diameter 1,75 meter dan ketebalan 3 sentimeter serta berat diperkirakan mencapai 500 kg, wajan itu dipindahkan ke Museum Tosan Aji untuk pengamanan dan penyelamatan.
“Wajan ini tidak lengkap dan hanya bagian bawah saja yang ada. Ada juga temuan penyerta yang ditemukan di dekat wajan yakni tiga besi kecil dengan perincian dua memanjang dan satu lingkaran seperti tempat meletakkan minyak,” ujar Junawan, Seksi Penyelamatan BPBC Jateng.
Ketiga benda ditemukan pertama kali di atas wajan. Dan diperkirakan tidak ada benda lain lagi yang memiliki hubungan dengan temuan itu. Hal ini didasarkan pada lokasi tertanamnya wajan di mana tidak terdapat tungku api seperti temuan di Kutoarjo beberapa waktu lalu.
“Kalau disamakan, ini seperti temuan wajan di batang. Jadi wajan hanya tertanam saja di dalam tanah tanpa ada temuan pendukung,” tambah Junawan yang datang didampingi Seksi Pengamanan Harun Al Rosyid.
Sebagai langkah penelitian, pihaknya juga membawa patahan wajan dari lokasi yang akan dilakukan penelitian untuk mengetahui resido yang dikandung dalam wajan. Terkait usia wajan, Junawan mengaku secara absolut tidak bisa menyatakan, namun secara relatif hal itu bisa diketahui.
“Kami akan membandingkan dengan temuan-temuan yang sudah ada,” tambahnya.
“Kami akan membandingkan dengan temuan-temuan yang sudah ada,” tambahnya.
Pantauan Radar Jogja, proses evakuasi wajan cukup memakan waktu dan membuat arus lalulintas di depan Depo Arsip Arpusda Purworejo tersendat. Berhasil diangkat, wajan selanjutnya dimasukkan ke truk miliki DPU untuk dibawa ke Museum Tosan Aji yang berjarak sekitar 1 km dari lokasi.
Wajan kemudian ditempatkan di sebelah barat wajan raksasa yang telah ada di Museum Tosan Aji. Ditilik dari dasar wajan, sangat mungkin besar wajan yang ditemukan terakhir lebih besar jika dalam kondisi utuh. (laz/mg2)
Hilang 4 Hari, Bocah Asal Magetan Ternyata Korban Penculikan dan Di Jadikan Pengamen

Magetan - Bocah bernama Alex Eko Putro (10) warga Desa Kembang Kecamatan Jogorogo Ngawi, hilang selama 4 hari sejak Kamis (13/10) lalu. Alex ternyata jadi korban penculikan dan dipaksa mengamen. Alex ditemukan petugas Satpol PP di alun-alun Kota Magetan Minggu (16/10) malam saat ada pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Saat ditemukan, bocah kelas 4 SD itu dalam keadaan bingung sebab tidak ada orang lain yang menemaninya.
Saat ditanya petugas, korban mengatakan jika dirinya pergi bersama seorang pria yang saat itu menunggu di suatu tempat. Ketika petugas mendatangi pria yang ditujukan si bocah, tiba-tiba pelaku langsung melarikan diri.
Petugas lalu melakukan pengejaran. Pelaku akhirnya berhasil ditangkap Senin (17/10) siang, di sebuah warung di Kota Magetan. Kepada petugas pelaku warga Magetan bernama Trianto (35) itu mengaku mengajak korban pergi dari rumah untuk disuruh mengemis dan mengamen.
"Saya paksa-paksa dia, saya suruh mengamen dan minta-minta," ujar Trianto kepada petugas. Menurut kepala Satpol PP Magetan, Chanif Tri Wahyudi, korban ditemukan salah seorang warga yang mengetahui korban sedang bingung di tengah alun alun. Selanjutnya kejadian itu dilaporkan ke petugas Satpol PP.
"Anak itu kebingungan. Terus kita amankan dan ternyata dia itu sudah hilang selama 4 hari. Informasinya memang dia diajak seseorang," kata Chanif Tri Wahyudi kepada detikcom Senin (17/10). Usai diperiksa di Kantor Satpol PP, pelaku akhirnya diserahkan ke polisi. Sementara korban dikembalikan kepada orang tuanya.
Kisah Inspiratif Sri Rohani, Perempuan Asal Kebumen Yang Menerima Penghargaan Perempuan Pejuang Pangan 2016 dari Oxfam
Faya Mar’atushsholihah menggelayut manja di gendongan ibunya. Bocah berusia sembilan bulan itu mengajak bercanda ibunya, Sri Rohani, 19 tahun. Sri datang dari Kebumen, Jawa Tengah, ke Jakarta membawa serta buah hatinya itu untuk menerima penghargaan sebagai satu dari sembilan Perempuan Pejuang Pangan 2016 dari Oxfam.
Juri menilai, Sri layak menerima penghargaan tersebut. Keterlibatannya dalam mempertahankan lahan pertanian di wilayah desanya merupakan perjuangan penuh tantangan. Sri Rohani bersama penduduk Dusun Miri, Wiromartani, Kecamatan Mirid, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, berusaha keras mempertahkan tanah sawahnya agar tidak dikuasai tentara.
“Sawah kami dipagari, dijadikan tempat latihan tentara. Kami tidak bisa bertani,” ujar Sri di sela acara penganugerahan itu di Jakarta, Ahad (16/10/2016).
Dia dan penduduk khawatir akan mendapat marabahaya ketika menggarap sawah, terutama saat TNI berlatih di area tersebut. Namun, jika tidak ke sawah, mereka tak bisa merawat tanaman yang sudah disemai. “Kami tanam semangka cabai. Kalau tidak, tanaman akan mati karena tidak disiram,” ujarnya.
Sri bersama warga setempat pun bergerak, mereka ingin mempertahankan tanah kelahiran dan mata penghidupan mereka itu. Sebagai petani yang mengelola lahan di kawasan Urut Sewu. “Kalau tanah kami direbut, pastinya akan mengganggu pangan. Kami tidak punya penghasilan ,”ujar perempuan tamatan sekolag dasar ini. Dia tidak mampu meneruskan sekolah karena keluarganya yang terpisah ditambah kemiskinan yang mendera.
Protes
masyarakat pada tentara karena lahan pertanian mereka dipagari dan
digunakan untuk latihan militer. Foto: Capture video Dewi Nur Aeni
Sri diajak bibinya ikut demonstrasi yang dipimpin lurah setempat. Ia ikut aksi melawan tentara yang ingin menjadikan daerah mereka area latihan. Melawan kebijakan dan surat-surat yang menyatakan daerah tersebut digunakan sebagai wilayah latihan. Warga juga menolak pemagaran yang dilakukan oleh tentara, terhitung tahun lalu. Aksi itu, kata Sri Rohani, semula berlangsung tertib, namun kemudian menjadi rusuh karena ulah provokator.
Sri masih ingat, saat itu ia sedang hamil lima bulan. Malang, ia turut menjadi korban kekerasan. “Saya ditendang dari belakang, saya tidak bisa memikirkan kondisi saat itu. Terlebih pada kesehatan janin yang ada dalam kandungan.” Beruntung, jabang bayi itu selamat. Lahir tanpa kurang suatu apapun. Bayinya, Faya, kini tumbuh sehat.
Sri menuturkan, perjuangan yang dilakukannya itu demi tanah kelahiran dan pertanian, tempat masyarakat mencari makan. “Saya berharap, pertanian kami tidak terusik oleh kepentingan lain. Kampung yang damai dan masyarakat aman mengelola lahan.”
Keberanian dan keteguhannya untuk tetap menjaga sawahnya itulah yang membuatnya terpilih sebagai salah satu Perempuan Pejuang Pangan 2016. Dewi Nur Aeni mendokumentasikan profil Sri Rohani dan upayanya mempertahankan lahan yang menjadi mata pencariannya itu.
Selain Sri Rohani, ada Giyem (Pati), Ummi Kalsum (Aceh Besar), Seliwati (Luwu Utara), Daeng Karra (Makassar), Nurlina (Pangkep), Catur Rini (Bogor), Beatrix Rika (Sikka), dan Erna Leka (Tulang Bawang) yang mendapat penghargaan Perempuan Pejuang Pangan 2016.
Perempuan-perempuan tersebut dinilai terlibat langsung dalam mempertahankan lahan pertanian, memimpin pertanian dengan varietas lokal yang lebih adaptif terhadap iklim dan lingkungan setempat, serta membudidayakan pertanian hidroponik untuk mengatasi sempitnya lahan. Perempuan pejuang pangan di pesisir bahkan berperan penting dalam merestorasi hutan mangrove sebagai habitat ikan-ikan tangkapan nelayan.
Wednesday, October 26, 2016
Penemuan Wajan Raksaksa Kembali Hebohkan Purworejo, Berdiameter 175 Cm dengan Berat Setengan TON
PURWOREJO- Wajan berukuran raksaksa ditemukan pekerja proyek pembangunan Depo Arsip Kabupaten Purworejo di Jl Sarwo Edhy Wibowo No 42 Kelurahan Sindurjan, Kecamatan Purworejo, Selasa (25/10). Penemuan itu langsung membuat heboh pekerja bangunan dan warga masyarakat setempat.
Informasi yang berhasil dihimpun Ekspres menyebutkan, benda dengan lebar sekitar 175 centimeter ini ditemukan pertama kali oleh Siswanto (40), salah satu pekerja bangunan warga Desa Sambeng Kecamatan Bayan. Benda dengan ketebalan 3 centimeter ini ditemukan sekitar pukul 10.00 WIB."Awalnya dikira batu waktu mau menggali tanah untuk membuat Sepiteng. Dicangkul keras seperti besi, tidak tahunya malah wajan," katanya, Siswanto.
Dikatakan, bahwa benda menyerupai wajan raksasa ditemukan pada galian kedalam satu meter. "Langsung digali rame-rame. Berat sekali lebih dari setengah ton, akhirnya diangkat pake alat berat tambahnya.
Benda menyerupai wajan ditemukan dalam keadaan tidak utuh, disetiap sudut rompel atau tidak rata. "Bentuknya cekung namun pinggirnya , tadi disamping wajan juga ditemukan besi lonjong dua dan besi seperti per, lalu besinya disimpan pegawai Arpusda," timpal Lukas (35) Desa Kedungsari Kecamatan Purworejo pekerja yang ikut mengevakuasi benda tersebut. (ndi)
Dikatakan, bahwa benda menyerupai wajan raksasa ditemukan pada galian kedalam satu meter. "Langsung digali rame-rame. Berat sekali lebih dari setengah ton, akhirnya diangkat pake alat berat tambahnya.
Benda menyerupai wajan ditemukan dalam keadaan tidak utuh, disetiap sudut rompel atau tidak rata. "Bentuknya cekung namun pinggirnya , tadi disamping wajan juga ditemukan besi lonjong dua dan besi seperti per, lalu besinya disimpan pegawai Arpusda," timpal Lukas (35) Desa Kedungsari Kecamatan Purworejo pekerja yang ikut mengevakuasi benda tersebut. (ndi)
8 Desa Paksa Kades Bikin Perdes Anti Nikah Dini Menghindari Banyaknya Perceraian
Upaya Delapan Desa Cegah Pernikahan Dini di Kebumen, Jawa Tengah
Terlalu banyaknya dampak buruk pernikahan di usia anak sangat dipahami warga desa di Kebumen, Jawa Tengah. Mereka serempak kampanyekan anti nikah dini, bahkan menolak UU Perkawinan.
BERKELOK dan harus penuh kesabaran me nuju Desa Panimbun, Kebumen ini. Badan jalan cukup sempit tak cukup dilalui dua ken daraan mobil. Kondisi jalannya pun cukup licin, terutama pada bagian perbukitan. Tampak sebagian bukit dipenuhi pohon pinus yang sudah tua. Berdiri tegak, rapi layaknya barisan prajurit. Sebagian lain karakter hutan tropis dengan tanaman perdu. Butuh ekstra waspada, karena dinding bukit itu kerap longsor sewaktu-waktu. ’’Musim penghujan seperti ini jadi hambatan bagi kami warga desa.
Sebagian tanah bukit sering kali ambruk menutup jalan,’’ ujar Yanto, warga desa Panimbun yang menjadi guide perjalanan.
Satu setengah jam terlewati. Desa Panimbun tampak di depan mata. ’’Selamat datang di desa Panimbun. Inilah satu dari delapan desa yang telah sepakat menolak nikah dini,’’ lanjut Yanto sambil mengantar ke kantor Desa Panimbun Kecamatan Karanggayam, Kebumen.
Kenapa mesti ke kantor desa? Yanto berkilah dari kantor itulah bisa terlihat perubahan angka nikah dini yang pernah terjadi. Perubahan itu bukan tanpa upaya. Ada kerja keras yang dilakukan aparatur desanya.
Dari jauh tampak senyum lelaki berusia 40 tahunan. Berdiri menghadap rombongan yang penasaran dengan kegigihan warga desa menolak nikah dini. Lelaki itu berseragam hijau. Berbeda dari orang lain yang juga ikut berdiri. ’’Ini Pak Surat Munandar. Beliau sekretaris desa. Kebetulan kepala desa sedang ada musibah. Jadi Pak Sekdes yang menerima,’’ kata Yanto.
Surat Munandar memang aparatur desa yang ikut gigih menolak nikah dini. Kegigihannya itulah membuahkan sebuah peraturan desa yang secara tegas anti pernikahan dini. Bahkan tak gentar berbeda pendapat dengan aturan lebih tinggi.
Di kantor Desa Panimbun suasana anti nikah dini sudah terasa. Ada ruang media publik yang terpasang di luar kantor. Dalamnya berisikan keluhan remaja desa. Di ruang itulah kampanye anti nikah dini disampaikan. Banyak model kampanye yang dilakukan warga desa. Mulai tulisan sampai gambar sederhana.
Semuanya menyatakan ungkapan menolak nikah dini. ’’Ini amanat warga. Seluruh warga desa memang tak setuju nikah di usia anak. Yakni di bawah usia 18 tahun,’’ kata Surat Munandar. Mendapat dorongan itulah, sambung dia, seluruh tokoh desa dan aparatur desa berdialog serius. Karena ada pandangan berbeda aturan nikah dengan tuntutan sebagian warga. Dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, kata Surat Munandar, secara jelas pernikahan bagi perempuan bisa dilakukan minimal usia 16 tahun. Padahal usia itu masih belum cukup untuk membangun rumah tangga. Pada sisi lain, sebagian penduduk desa tetap setuju melakukan pernikahan usia sesuai UU Perkawinan. Tapi pada sisi lain ada penduduk desa yang tak menginginkan pernikahan usia dini terjadi. "Tak mungkin itu dibiarkan terus. Aparatur desa dan tokoh berembug mendengarkan pendapat dari berbagai pihak,’’ paparnya.
Peraturan Desa (Perdes) No. 3 Tahun 2012 sudah terbit. Perdes yang mengusung tema Perlindungan Anak itu terdiri atas 8 Bab, 57 Pasal. Ada 4 pasal yang membahas tentang pernikahan. Sekdes mengaku peraturan itu memang baru diterbitkan pada 30 Mei 2012. Tapi secara empris sudah lebih dulu jalan sebelum aturan itu ada. ’’Sekarang lebih tegas sifatnya. Membatasi pernikahan dini terjadi,’’ paparnya.
Bagaimana penerapannya? Surat Munandar menegaskan persoalan nikah dini di Panimbun memang begitu mencemaskan pada tiga tahun lalu. Angka pernikahan di usia anak selalu terjadi. Paling tidak dalam setahun bisa 2-3 anak menikah di usia dini. Menariknya Perdes No. 3 Tahun 2012 itu secara tegas melawan UU No.1 Tahun 1974. Bahkan pada Pasal 30 sampai Pasal 33 menuangkan khusus soal pernikahan dini. ’’Pasal 30, setiap anak berhak dan ber kewajiban menjaga dan melindungi dirinya serta mencegah dari menikah di usia anak,’’ kata Surat Munandar membacakan isi pasal itu.
Selanjutnya, terang dia, pada Pasal 31, setiap orang dilarang mempengaruhi, membujuk anak untuk tidak melakukan pernikahan di usia anak. Bahkan Pasal 33 membatasi larangan memberikan rekomendasi nikah bagi aparatur desa. ’’Setiap calon pengantin kan menikah ada surat dari pengantar desa. Jika diketahui calon pengantin itu masih berusia di bawah 18 tahun, maka rekomendasi nikah itu tidak dikeluarkan,’’ paparnya.
Perdes ini, sambung dia, memang bertentangan dengan UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Tapi itu menjadi bukti warga desa pun sudah tak setuju dengan batasan usia nikah pada regulasi tersbut.
Tak hanya desa Panimbun yang menolak nikah dini. Di Kabupaten Kebumen ini ada delapan desa yang memiliki sikap serupa. Menolak nikah di usia anak. Bahkan delapan desa itu pun memilki Perdes hampir sama.
Desa Kajoran Kecamatan Karang Gayam yang letaknya lebih jauh dari Desa Panimbun, tak mau kalah hebat. Desa yang berada nyaris paling ujung di Kabupaten Kebumen itu pun membuat Peraturan Desa yang menolak nikah dini. Kepala Desa Kajoran, Suparlan mengaku nikah usia dini juga sempat ramai di desanya.
Mereka menikah dengan berbagai faktor pemicu. Mulai tekanan ekonomi sampai kasus tak sedap. “Ya..remaja sekarang memang beda. Ada kok yang nikah karena hamil duluan. Padahal usianya masih di bawah 18 tahun,” paparnya.
Faktor pemicu nikah dini inilah yang terus diminimalisasi dengan menyadarkan orang tua dan remaja desa. Suparlan pun mengajak tokoh desa membuat aturan khusus tentang pernikahan. Hingga diterbitkan Peraturan Desa perlindungan anak. Aturan itu membahas soal pernikahan. ’’Semua warga setuju nikah harus usia dewasa. Hitungannya di atas 18 tahun. Jadi kesepakatan itu dibuat dalam Peraturan Desa,’’ imbuh kepala desa berusia 60 tahunan ini.
Hingga kini sudah delapan desa di Kebumen yang memiliki Peraturan Desa (Perdes) Perlindungan Anak. Enam desa lainnya adalah Desa Karang Sambung, Desa Logandu, Desa Pesuningan, Desa Sidototo, Desa Pejengkolan dan Desa Balingasal. Perdes tersebut mengikat kepala desa dan jajarannya untuk aktif dalam upaya-upaya preventif perlindungan anak, khususnya pernikahan dini. (*)
Subscribe to:
Posts (Atom)













